Ilustrasi (Antara Jatim/Ummarul Faruq)
Jakarta – Indonesia sesungguhnya berada dalam situasi darurat pengangguran. Menurut data IMF menempatkan Indonesia sebagai negara yang memiliki tingkat pengangguran tertinggi di Asia Tenggara. Menurut data IMF, angka pengangguran Indonesia di tahun 2025 mencapai 5 % , disusul Filipina dengan 4,5% dan Brunei Darussalam dengan 4,9% dan seterusnya. Sementara data.goodstats.id menempatkan Indonesia berada di urutan ke-7 di Asia.
Sementara itu Laporan FAO berjudul The Status of Youth in Agrifood Systems yang dirilis pada tanggal 3 Juli 2025 sebagaimana dikutip dari Kompas.com mengungkap fakta yang mengkhawatirkan: lebih dari 20 persen dari 1,3 miliar pemuda di dunia saat ini tidak bekerja, tidak sekolah, atau tidak sedang dalam pelatihan (NEET).
Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) melihat sektor pertanian dan pangan sebagai solusi untuk mengatasi tingkat pengangguran pemuda global yang berada di tingkat mengkhawatirkan. Jika pengangguran ini berhasil ditangani, terutama di kalangan pemuda usia 20-24 tahun, hal itu berpotensi meningkatkan Produk Domestik Bruto (PDB) global sebesar 1,4 persen. Menariknya, FAO mengungkapkan sekitar 45 persen dari peningkatan PDB tersebut diperkirakan berasal dari peningkatan partisipasi pemuda dalam sistem agrifood.
Sayangnya, meski Indonesia bisa dikategorikan darurat pengangguran dengan tertinggi di Asean, namun belum terdengar menjadi agenda pembahasan yang serius dan utama di kalangan DPR termasuk partai politik. Bagaimana mendesain roadmap untuk mengatasi angka pengangguran tersebut.



