Jakarta – Politikus PKS, Mardani Ali Sera, menyinggung hubungan Prabowo dan Jokowi seharusnya berjalan biasa saja dan harmonis sama dengan mantan Presiden yang lainnya. Namun hubungan tersebut menjadi rumit lantaran ada Gibran Rakabuming Raka sebagai wakil Prabowo.
‘’ Makanya wajar jika ada pertemuan-pertemuan yang tidak transparan antara Pak Prabowo dengan Pak Jokowi banyak timbul tafsiran,” ujarnya kepada wartawan menanggapi tudingan relawan Jokowi menyebut ada pihak – pihak tertentu yang sengata ingin memisahkan Jokowi dari Prabowo.
Menurut Mardani, sejatinya hubungan presiden dengan mantan presiden mestinya harmonis. Mereka semua pemimpin bangsa. Oleh karenanya, ia menyarankan sebaiknya biarkan Wapres Gibran berkembang di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto. Dijelaskannya dalam sistem Presidensial kekuasaan tertinggi berada di tangan presiden. Prabowo harus diberi ruang menjalankan pemerintahan hingga program yang diusung tanpa diganggu oleh siapupun.



Sementara itu peneliti ASA Indonesia, Syamsuddin Alimsyah berpandangan hubungan Presiden Prabowo dengan mantan Presiden RI Ke -7 Jokowi tidak akan pernah tulus. Sebaliknya akan selalu dimaknai penuh intrik, kental dengan kepentingan kekuasaan. Di manapun dan kapanpun dalam setiap ruang dan waktu, komunikasi Jokowi dengan Prabowo akan selalu berada dalam ruang kepentingan untuk penyelamatan, perlindungan terhadap eksistensi Gibran Rakabuming Raka sebagai Wakil Presiden yang juga adalah anak kandungnya.
Jokowi sadar betul posisi Gibran sebagai Wakil Presiden belum diterima penuh oleh masyarakat. Sikap resistensi public sangat kuat, bahkan sejak pemilu. Gibran tidak akan pernah diterima secara baik karena dianggap bagian dari produk anak haram konstitusi.
‘’Jokowi terjebak dengan permainannya sendiri. Apalagi posisi Gibran yang terus disorot publik. Sekarang muncul lagi soal ijazahnya. Jokowi tidak punya pilihan. Jokowi aktif mencarikan perlindungan untuk Gibran,’’ ujarnya menambahkan marwah Lembaga kepresiden dirusak dengan kepentingan keluarga.
Syamsuddin menambahkan Jokowi telah bersikap keliru dan bisa fatal dalam merespon situasi perpolitikan di tanah air. Jokowi harusnya amou memasahkan institusi kepresidenan dengan institusi keluarga. Jokowi tidak perlu gegabah dan blunder ikut merespon isu pemakzulan Gibran hanya karena anaknya.



