Polri Benarkan Tindakan Perusakan Hutan. Keterangan foto : tumpukan kayu (foto ist/detik.com)
Jakarta, — Kasus misteri tumpukan kayu gelondongan yang terbawa arus banjir di Garoga, Tapanuli Utara hingga Anggoli Tapanuli Tengah, Sumatera Utara (Sumut) mulai menemui titik terang. Pihak Dirtipidter Bareskrim Polri mengaku kini terus mendalami kasus tersebut, bahkan sudah menaikkan statusnya ke tahap penyidikan.
Mengutip dari Detik.com menyebutkan informasi status penyidikan disampaikan langsung Dirtipidter Bareskrim Polri Brigjen Mohammad Irhamni melaui zoom, Rabu (10/12/2025). Bahkan beberapa Perusahaan yang selama ini diduga beroperasi di sana juga sudah dimintai keterangan.
Temuan itu naik penyidikan setelah ditemukannya dua alat bukti. Ditemukan ada tindakan perusakan hutan yang menyebabkan banjir.
“Dasarnya ditemukan dua alat bukti adanya peristiwa kerusakan lingkungan hidup yang sebabkan banjir,” ucap Irhamni seperti dikutip dari Detik.com.
Sementara itu, salah satu penyidik Dirtipidter Bareskrim Polri, Kombes Fredya, membeberkan temuan di lapangan. Ia menyebut memang ada pembukaan lahan yang terjadi di dua TKP.
“Itu terdapat bukaan lahan yang ada di KM 8 dan KM 6, di situ ada longsoran, ada beberapa bukaan lahan oleh sebuah perusahaan,” ujar dia.
Ia belum mengungkap perusahaan apa yang dimaksud. Namun ia menyebut ada juga dua alat berat yang ditemukan di TKP.
“Kemudian ditemukan juga oleh penyidik saat datangi TKP ditemukan alat berat 1 buldozer dan 2 ekskavator,” ujar dia.
Adapun penyidikan yang dilakukan didasari atas dugaan tindak pidana lingkungan hidup seperti diatur dalam Pasal 109 juncto Pasal 98 juncto Pasal 99 UU 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan Pengelolaan Lingkungan Hidup.
Sebelumnya juga diberitakan di media ini, pihak istana telah mengakui penyebab bencana banjir bandang dan lonsor di sebagian wilayah Sumatera (Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat) sesungguhnya bukan semata karena cuaca ekstrim melainkan karena kerusakan lingkungan.
Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya menegaskan bahwa bencana di Sumatera bukan semata akibat cuaca ekstrem, tetapi ada pemicu kerusakan lingkungan. Bahkan Teddy menebut sekarang ini, pemerintah sedang melakukan penyelidikan secara serius.



