tumpukan gelondongan kayu hasil bawan banjir bandang. ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra/tom.
JAKARTA –– Di tengah polemik tumpukan kayu gelondongan hasil bawaan banjir bandang di wilayah Sumatera (Sumbar, Sumut dan Aceh), Arsitek kawakan dan pakar urban, Marco Kusumawijaya, tiba – tiba melontarkan ide menarik, mendorong pemanfaatan kayu gelondongan tersebut sebagai solusi bagi warga korban bencana yang selama ini kehilangan tempat tinggal atau bermukim di pengungsian. Menurutnya, kayu – kayu gelondongan tersebut bukan sekadar sampah bencana, melainkan sumber daya konstruksi strategis yang dapat mempercepat pemulihan hunian warga yang kini hancur total.
‘’Kayu – kayu tak bertuang tersebut yang me hasil pembalakang akan lebih bagus dimanfaatkan oleh warga, bisa digunakan untuk bahan bangunan rumah sementara atau bahkan permanen,’’ jelasnya dalam podcast di kanal You Tube Abraham Samad Speak UP yang diunggh Selasa 16/12/2025 kemarin. Menurutnya, ketimbang didiamkan saja terus menjadi tumpukan membusuk. Bahkan sewaktu waktu bisa kembali mengancam bencana baru, lebih bagus dimanfaatkan oleh warga. Hanya saja tentu pemberintah harus memberi kebijaksanaan dalam situasi darurat bencana sekarang ini.

Kunci dari Konstruksi Darurat dalah Manfaatkan Apa yang Ada Kayu Gelondongan: Material Konstruksi “Gratis“
Dalam analisis teknisnya, Marco menekankan bahwa logistik adalah hambatan terbesar dalam masa tanggap darurat. Menunggu pasokan material pabrikan dari luar daerah sering kali memakan waktu lama karena akses jalan dan jembatan yang putus.
“Kunci dari konstruksi darurat adalah manfaatkan apa yang ada. Kayu itu berlimpah sekarang, itu sumber daya strategis,” tegas Marco mempertegas dirinya sebagai arsitek.
‘’Saya ini arsitek,’’ tegasnya.
Marco bahkan mengusulkan skema pemanfaatan kayu berdasarkan ukurannya:
- Ranting dan Cabang Kecil: Dapat diolah menjadi kayu bakar untuk kebutuhan dapur umum masyarakat terdampak.
- Kayu Diameter < 10 cm: Dimanfaatkan sebagai kasau atau kerangka atap darurat.
- Kayu Diameter > 10 cm: Digunakan sebagai tiang utama hunian sementara (huntara) atau bahkan rumah tetap nantinya.
Solusi “Cerucuk”: Membangun di Atas Lumpur Tanpa Ekskavasi masif
Salah satu tantangan terbesar di wilayah bencana saat ini adalah lapisan lumpur yang sangat tebal. Marco menjelaskan bahwa untuk membersihkan atau menyingkirkan lumpur adalah pekerjaan yang nyaris mustahil dilakukan secara cepat dengan alat berat yang terbatas.
Sebagai arsitek, ia menawarkan teknik Cerucuk Kayu. Kayu-kayu gelondongan yang ditemukan di lokasi dapat ditancapkan ke dalam tanah yang lunak/berlumpur untuk memperkuat daya dukung tanah.
“Tanah ini lemah karena lumpur, tapi bisa diperkuat dengan cerucuk. Batang kayu ditancapkan, itu akan cukup kuat untuk menopang rumah satu atau dua lantai tanpa harus membuang seluruh lumpurnya,” jelasnya.
Peringatan: Jangan Sampai Diklaim Korporasi
Marco memberikan catatan kritis Pemerintah dalam situasi sekarang ini harusnya lebih responsive. Tentu selain segera melakukan pemetaan dan menyatakan secara resmi bahwa kayu-kayu tersebut boleh dimanfaatkan oleh masyarakat. Juga tak kalah penting adalah untuk mencegah dua risiko yang bisa timbul dari tumpukan kayu gelondongan tersebut. Pertama, Penyumbatan aliran air: Jika tidak segera dipindahkan, kayu-kayu tersebut akan menghambat arus sungai saat hujan susulan datang, menciptakan risiko banjir bandang baru. Kedua : Potensi klaim sepihak: Mencegah kayu-kayu bernilai ekonomi tersebut diklaim kembali oleh pihak korporasi yang diduga kuat merupakan pemilik asal kayu hasil tebangan tersebut.



