BANDA ACEH — Aceh kembali luluh lantah dengan bencana banjir bandang dan longsor yang terjadi 25 November 2025 lalu. Aceh yang selama ini dikenal dengan keindahan bentang alamnya, hilang seketika berganti dengan pemandangan tumpukan lumpur dan kayu gelondongan hasil tangan penjahat yang selama ini melakukan pembabatan hutan.
Data Posko tanggap bencana Aceh mencatat sedikitnya 458 orang dan 30 orang masih dalam pencarian. Sementara warga yang kini masih bertahan di pengungsian tercatat 2.174 titik pengungsian dengan total 107.014 kepala keluarga atau 406.360 jiwa. Mereka sedang berusaha bertahan hidup dengan suplay bantuan ala kadarnya. Gubernur Aceh Muallim dalam sebuah kesempatan bahkan sudah sangat kuatir dengan kondisi warganya. Ia takut warganya akan mati bukan lagi karena bencana longsor tapi karena bencana kelaparan akibat lambatnya bantuan
Mantan anggota BIN, Kolonel Inf (Purn) Sri Radjasa Chandra, saat tampil dalam podcast kanal You Tube Abraham Samad Speak UP mengungkap bencana banjir dan longsor yang kian rutin melanda wilayah Serambi Mekkah bukan lagi dianggap sebagai “takdir” semata. Namun ada korelasi kuat antara izin-izin tambang raksasa dengan kerusakan ekosistem yang menjadi hulu bencana.
Hulu yang Terjarah, Hilir yang Tenggelam
Meski bukan orang asli Aceh, Sri Radjsa mengaku cukup kenal wilayah Aceh dari perkotaan hingga perkampungan / daerah terpencil. Maklum Sri Radjasa terbilang cukup lama berdiam di Aceh. Oleh negara, Ia sesungguhnya ditugasi khusus memantau stabilitas keamanan di Aceh. Tepatnya sejak masih zaman Orde Baru berkuasa dengan pemberlakuan DOM (Daerah Operasi Militer) di Aceh. Meski Sri Radjasa adalah anggota TNI saat itu, namun ia bisa diterima membaur dengan masyarakat Aceh . Bahkan mengaku sangat kenal dengan mantan Panglima GAM Mudzakkir Manaf atau biasa dipanggil Muallem. Dalam berbagai obrolan, Sri Radjasa selalu bercerita orang Aceh sangat baik dan tanggungjawab. Sri Radjasa juga ikut menjadi salah satu korban ketika tsunami melanda Aceh.
Sri Radjasa tahu betul beberapa titik lokasi mengalami penggundulan hutan. Konsesi pertambangan telah mengancam masa depan masyarakat Aceh. Ibarat kata, Hulu yang dijarah, hilir yang tenggelam.
Gurita Tambang “Bodong” dan Pembiaran
Sri Radjasa tidak segang menyebut aksi penggundulan hutan adalah fenomena “Gunung Es” bagi masyarakat Aceh. Obral izin tambang adalah praktik korup yang secara nyata mengancaman sewaktu – waktu keselamatan jiwa. Sri Radjasa bahkan menyebut sudah terjadi semacam gurita tambang di Aceh. Ia tidak segang menyoroti Presiden Prabowo harus jujur, terbuka dan tegas menghentikan dan mencabut izin tambang tersebut. Baginya, keselamatan manusia harus yang lebih utama. Prabowo tidak boleh omong -omong saja.


