JAKARTA – Praktisi pasar modal dan ekonom senior, Yanuar Rizky, memberikan peringatan keras mengenai kondisi fundamental ekonomi Indonesia yang saat ini sedang mengalami tekanan hebat di tingkat akar rumput. Menurutnya, berdasarkan data-data perbankan dan fiskal yang tersaji selama ini menunjukkan kondisi bahwa Indonesia tengah memasuki fase yang serius dan mengkhawatirkan.
‘’Coba kalau kita liat lagi ke belakang, sejak tahun 2023 sesungguhnya muncul fenomena maraknya pinjaman online (pinjol). Dan itu sempat ramai, kemudian terus bergerak menjadi fenomena “makan tabungan” (Mantap) yang sistemik. Bahkan sekarang ini sudah bukan lagi mantap tapi sudah makan hutang (matang). Dan ini berbahaya,’’ ujar Yanuar Risky saat tampil dalam podcast Abraham Samad Speak UP yang diunggah sabtu 27/12/2025 kemarin. Selan Yanuar, juga hadir dalam Alamsyah Saragih (Anggota Ombudsman RI 2016-2021 yang mebidangi ekonomi dan keuangan dan Hudan Lil M (Mahasiswa Universitas Paramadina). Diskusi dipandu langsung Danardono Siradjudin, seorang aktivis NGO yang banyak bergerak dalam isu perbaikan tata kelola pemerintahan.
Anomali Data: Pertumbuhan Semu di Tengah Lesunya Sektor Formal
Yanuar menyoroti ketidaksinkronan antara klaim pertumbuhan ekonomi pemerintah dengan realitas di lapangan. Ia mencatat adanya penurunan penerimaan negara dari Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penghasilan (PPh). Secara teknis ekonomi, penurunan ini adalah indikator valid bahwa transaksi antar-perusahaan melemah dan daya beli konsumsi masyarakat sedang ambruk. Bahkan menurutnya, meskipun data BPS menunjukkan angka pengangguran rendah, jika kita bedah, pekerja formal kita menyusut sementara sektor informal membengkak. Ini bukan pertumbuhan sehat.

Fenomena ‘Mantap’ dan Jeratan Pinjol
Salah satu poin paling krusial yang dipaparkan Yanuar adalah pergeseran perilaku keuangan masyarakat akibat tekanan ekonomi. Ia mengidentifikasi siklus bahaya yang dimulai sejak 2023.
Pertama, fenomena pinjol (pinjaman online). Fenomena ini mulai ramai di tahun 2023 dan menyentuh kelompok masyarakat kelas bawah. Mereka terpaksa menggunakan pinjol untuk kebutuhan konsumsi karena pendapatan yang tidak mencukupi.
Kedua, Tahap makan Tabungan (2024-2025): Data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menunjukkan saldo tabungan di bawah Rp100 juta terus merosot. Masyarakat mulai mencairkan simpanan masa depan untuk bertahan hidup hari ini.
Ketiga, fenomena paling mengkhawatirkan yakni fenome makan hutang. Tahap Gagal Bayar (2025-2026). Menurut Yanuar, berdasarkan data kartu kredit memperlihatkan grafik nilai transaksi naik, namun saat bersamaan, angka kredit macet (NPL) juga melonjak dua kali lipat.
“Ini artinya, kelompok menengah pun sudah mulai makan utang, dan sekarang mereka sudah tidak sanggup membayar lagi,” jelasnya.
2026: Tahun Bahaya
Yanuar memprediksi tahun 2026 sebagai “Tahun Bahaya” karena terjadinya penumpukan risiko. Di satu sisi, pemerintah menghadapi puncak kewajiban jatuh tempo utang luar negeri. Di sisi lain, terjadi krisis likuiditas di tingkat masyarakat karena tabungan sudah habis dan akses kredit tertutup akibat NPL yang tinggi.
Ia juga mengkritik kebijakan injeksi likuiditas pemerintah yang dianggap hanya “nyangkut” di perbankan. “Uang numpuk di bank, tapi tidak turun ke bawah karena dunia usaha tidak berani ekspansi. Terjadi kanibalisme di perbankan di mana mereka hanya saling rebutan debitur lama lewat refinancing, bukan menciptakan lapangan kerja baru,” tambah Yanuar.
Yanuar mendesak pemerintah untuk berhenti melakukan “penyanggahan” (denial) terhadap fakta ekonomi. Ia menyarankan agar koordinasi antara kebijakan fiskal (Kementerian Keuangan) dan moneter (Bank Indonesia) dilakukan secara jujur untuk mendorong transaksi antar-kelas.
Jika pemerintah tetap memaksakan target pertumbuhan tinggi tanpa membenahi daya beli kelas menengah dan bawah, Yanuar khawatir ledakan keresahan sosial akibat tekanan ekonomi di tahun 2026 akan sulit dihindari.




waduhh