JAKARTA – Selama puluhan tahun, dunia internasional menunggu runtuhnya stabilitas Iran di bawah beban sanksi ekonomi yang ekstrem. Namun, hingga hari ini, Teheran tetap berdiri tegak. Pengamat Timur Tengah, Dr. Dina Sulaeman, menilai kunci ketahanan tersebut bukan hanya terletak pada barisan rudal, melainkan pada struktur psikologi masyarakatnya yang unik.
Seperti dikutip di kanal YouTube Abraham Samad Speak UP, Dina membedah secara mendalam bagaimana Iran membangun apa yang disebut sebagai Culture of Resistance atau budaya perlawanan yang telah terinternalisasi secara kolektif.
Ideologi Sebagai Perisai Nasional
Menurut Dina, Barat sering kali salah hitung dengan menganggap sanksi ekonomi akan memicu pemberontakan rakyat terhadap pemerintah. Sebaliknya, di Iran, tekanan luar justru sering kali menjadi perekat nasionalisme.
Ia menyoroti bahwa doktrin perlawanan (muqawamah) bukan sekadar slogan politik, melainkan bagian dari identitas sosial. Hal ini membuat masyarakat Iran memiliki ambang toleransi yang tinggi terhadap kesulitan ekonomi demi mempertahankan harga diri bangsa.
“Rahasia mereka bertahan adalah ‘Culture of Resistance’. Bagi mereka, tunduk pada tekanan internasional yang tidak adil itu jauh lebih menyakitkan daripada hidup di bawah sanksi ekonomi,” ungkap Dina dengan lugas.
Ketahanan Sosial yang Mengakar
Dina menjelaskan bahwa struktur sosial di Iran didesain untuk mandiri. Ketika akses terhadap pasar global diputus, mereka beralih pada penguatan produksi domestik dan solidaritas sosial. Inilah yang membuat tatanan masyarakat Iran tidak mudah goyah oleh kampanye maximum pressure yang dilancarkan lawan.
Bagi masyarakat Iran, kedaulatan bukan sekadar konsep di atas kertas, melainkan sesuatu yang layak diperjuangkan di kehidupan sehari-hari.
“Iran itu unik karena mereka adalah satu-satunya negara di Timur Tengah yang berani secara terbuka menyatakan ‘Tidak’ pada hegemoni Amerika dan tetap bertahan meski dikepung sanksi selama 40 tahun lebih,” tambahnya.
Perang Urat Syaraf
Lebih jauh, Dina memandang bahwa Iran sangat mahir dalam mengelola psikologi massa di tengah ancaman perang. Alih-alih merasa terintimidasi oleh pengerahan armada militer asing di Teluk, masyarakat Iran justru menunjukkan ketenangan yang didorong oleh kepercayaan diri pada kekuatan pertahanan dalam negeri.
Dina menegaskan bahwa tanpa ketahanan sosial dan psikologi yang kuat, secanggih apa pun teknologi militer suatu negara akan runtuh jika rakyatnya kehilangan kepercayaan pada identitas bangsanya.
Dr. Dina Sulaeman memberikan perspektif baru bahwa perang modern bukan lagi soal siapa yang memiliki ledakan paling besar, melainkan siapa yang memiliki napas paling panjang. Iran membuktikan bahwa modal sosial dan mentalitas “anti-tunduk” adalah variabel yang tidak bisa dibeli dengan dolar, namun mampu melumpuhkan strategi sanksi yang paling canggih sekalipun.



