Catur di Atas Bara: Menakar Dinginnya Rasionalitas Diplomasi Teheran

whatsapp image 2026 04 07 at 17.04.34

JAKARTA – Di panggung dunia yang bising dengan genderang perang, Iran sering kali dilukiskan dengan warna-warna tunggal yang pekat: radikal, emosional, dan meledak-ledak. Namun, bagi Dr. Dina Sulaeman, potret tersebut hanyalah fatamorgana yang diciptakan oleh kacamata Barat yang buram.

Dikutip dari kanal YouTube Abraham Samad Speak UP, Dina yang pernah lama bermukim di Iran  membedah anatomi politik Iran bukan sebagai api yang tak terkendali, melainkan sebagai sebuah permainan catur yang dimainkan dengan kesabaran seorang pertapa dan ketajaman seorang ahli strategi.

Puisi di Antara Mesiu

Dina mengajak kita menembus kabut stigma. Di balik retorika perlawanan yang membakar, ia menemukan denyut rasionalitas yang sangat dingin. Iran, menurutnya, tidak pernah melangkah tanpa menghitung jarak jatuh bayangannya sendiri. Setiap langkah diplomatik mereka adalah bait-bait puisi yang terukur, di mana jeda sama pentingnya dengan kata-kata.

“Iran itu unik karena mereka adalah satu-satunya negara di Timur Tengah yang berani secara terbuka menyatakan ‘Tidak’ pada hegemoni Amerika dan tetap bertahan meski dikepung sanksi selama 40 tahun lebih,” ujar Dina.

Kalimat “Tidak” tersebut, bagi Dina, bukanlah teriakan kemarahan, melainkan sebuah posisi tawar yang telah dikalkulasi secara matang di atas meja diplomasi.

Seni Menahan Diri

Salah satu poin paling tajam yang ia sampaikan adalah mengenai kemampuan Iran untuk menahan diri. Di saat dunia memprediksi ledakan amarah, Teheran justru sering kali membalas dengan ritme yang lambat namun mematikan—sebuah pembalasan yang terukur, seperti yang terlihat dalam dinamika konflik belakangan ini.

Dina memandang Iran sebagai aktor yang sangat memahami hukum aksi-reaksi internasional. Mereka tidak mencari kehancuran, melainkan pengakuan akan kedaulatan.

“Kekuatan Iran bukan sekadar jumlah tentara, tapi pada kemandirian teknologi militer… yang sekarang bahkan ditakuti oleh kekuatan besar dunia.” Kemandirian ini, dalam kacamata diplomasi Dina, adalah “kartu as” yang membuat posisi tawar Teheran tetap tegak meski di bawah tekanan maximum pressure.

Logika di Balik Ideologi

Bagi banyak orang, ideologi adalah tirai yang menutup akal sehat. Namun bagi Iran, ideologi muqawamah (perlawanan) adalah mesin penggerak yang berjalan di atas rel rasionalitas. Dina menjelaskan bahwa setiap dukungan regional dan setiap kesepakatan nuklir yang alot adalah bagian dari strategi besar untuk menjaga eksistensi bangsa.

Ia menutup ulasannya dengan sebuah pesan tersirat: Mengabaikan rasionalitas politik Iran adalah kesalahan fatal bagi siapa pun yang ingin memahami Timur Tengah. Iran tidak sedang bermain dadu dengan nasib; mereka sedang menenun karpet sejarah yang rumit, di mana setiap benang diplomasi dipasang dengan ketelitian yang luar biasa.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top