Dipo Satria Ramli : Foto Yayasan Inisiatif Rizal Ramli
Jakarta – Mantan Presiden ke- 7, Joko Widodo atau Jokowi kembali jadi sorotan publik tapi bukan dengan kasus ijazahnya. Jokowi disorot karena tiba-tiba muncul di tengah polemik proyek kereta cepat Jakarta- Bandung (KCJB) dan memberi pernyataan bahwa proyek KCJB tidak bisa dipersalahkan karena soal untung atau rugi. Menurutnya KCJB diperuntukkan sebagai investasi sosial.
Ekonom Universitas Indonesia (UI) Dipo Satria Ramli seperti dikutip di akun Xnya @DipoSatriaR (28/10/2025) menilai pernyataan Jokowi tersebut hanya akal-akalan saja sebagai bentuk pembenaran atas proyek yang dinilai membebani keuangan negara dan rakyat.
Ekonom Universitas Indonesia (UI) Dipo Satria Ramli seperti dikutip di akun Xnya menilai pernyataan Jokowi tersebut hanya akal-akalan saja sebagai bentuk pembenaran atas proyek yang dinilai membebani keuangan negara dan rakyat.
“Akal-akalan kelas berat! Proyek rugi dibilang investasi sosial,” ujar Dipo di X @DipoSatriaR (28/10/2025).
Dikatakannya, pernyataan bahwa proyek Kereta Cepat bukan untuk mencari keuntungan, melainkan manfaat sosial, adalah bentuk pengelabuan publik.
“Lah, yang nikmatin pejabat dan kroni, yang bayar bunganya rakyat,” ungkapnya lagi. Konsep investasi sosial yang disampaikan Jokowi hanya menjadi tameng untuk menutupi kerugian besar yang ditanggung negara dari proyek bernilai ratusan triliun itu.
“Hebat, rugi pun bisa dibungkus jadi kebajikan,” tandasnya.
Lebih lanjut, anak dari begawan Ekonomi, Rizal Ramli ini menyebut bahwa jika logika seperti ini terus digunakan, maka tak tertutup kemungkinan perilaku korupsi pun bisa dibenarkan dengan alasan serupa.
“Kalau gitu, korupsi sekalian aja disebut amal kebangsaan,” tegasnya.
Sebelumnya, pakar transportasi Agus Pambagio saat tampil podcast di kanal you tube Abraham Samad Speak UP, juga membongkar proyek KCJB yang kemudian berganti nama whoosh adalah proyek gengsi saja yang costly. Bahkan menurutnya, dari awal sejumlah kalangan sudah memberi saran proyek ini tidak visible bahkan rugi dan membebani keuangan negara.
Bukan hanya itu, Agus juga mempertanyakan lokasi rute statisun dan titik pemberhentian kereta cepat yang berpindah tidak sesuai konsep awal. Bahkan Agus mempertanyakan siapa yang diuntungkan dari titik lokasi pemberhentian kereta tersebut.




etCFTGaOcBBuwKAM