JAKARTA – Sebuah kontradiksi moral yang tajam kini tengah menjadi sorotan publik. Di satu sisi, Indonesia dikejutkan oleh tragedi seorang siswa SD di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang mengakhiri hidup karena kemiskinan ekstrem, sementara di sisi lain, sektor finansial tanah air terus diguncang oleh praktik manipulasi “saham gorengan” yang melibatkan perputaran uang hingga triliunan rupiah.
Fenomena ini memicu kritik pedas dari berbagai kalangan, termasuk dalam diskusi bersama dua tokoh mantan Ketua KPK Abraham Samad dan pengamat sosial Dedi Gumelar alias Miing yang diunggah di kanal YouTube Abraham Samad Speak UP kemarin. Mereka berdua menyoroti betapa timpangnya prioritas negara dalam melindungi warga negara paling rentan dibandingkan dengan pengawasan terhadap para “perampok” di pasar modal.
‘’Bukan hanya soal kematian anak itu karena tidak mampu beli buku, tapi ada pesan seolah yang bersangkutan tidak ingin melanjutkan beban orang tuanya dalam kemiskinan,’’ ujar Miing.
Semula diskusi mereka banyak mengulas isi berita koran cetak yang terbit hari itu. Termasuk headline salah satu koran yang memuat keterangan pemerintah tentang kondisi ekonomi yang diklaim semakin membaik. Bahkan media tersebut memberi judul besar Pertumbuhan Ekonomi hingga 5 persen lebih. Bagi Miing berita hari itu cukup bagus dan menghibur bagi masyarakat, meski faktanya tentu ada pada penilaian masyarakat.
‘’Bagi saya berita ini bagus. Setidaknya menghibur,’’ ujar Miing dengan dana satir.
Sebab baginya, ekonomi berkaitan langsung dengan persepsi masyarakat. Persepsi itu adalah perasaan rill yang dialami masyarakat sekarang ini. ‘’Saya sendiri menganggap ekonomi sekalin susah, daya beli sulit. Pasar -pasar bahkan mall semakin sunyi pengunjung,’’ ujarnya
Kontras yang Menyakitkan
Tragedi di Kabupaten Ngada, NTT, di mana seorang anak merasa putus asa hanya karena tidak mampu membeli buku tulis dan pena, disebut sebagai puncak gunung es dari kegagalan jaring pengaman sosial. Ironisnya, di saat yang bersamaan, publik disuguhi laporan mengenai praktik saham gorengan yang dikendalikan oleh segelintir elit untuk memperkaya diri sendiri dengan cara memanipulasi pasar.
“Negara seolah hadir untuk memfasilitasi transaksi besar, namun absen saat seorang anak butuh sebatang pena,” ungkap Miing dalam sebuah diskusi daring. Menurutnya, kontradiksi ini menunjukkan bahwa orientasi pembangunan saat ini masih terjebak pada angka-angka makro, sementara urusan perut dan pendidikan rakyat di tingkat mikro terabaikan.
Kegagalan Distribusi Keadilan
Sementara itu Abraham Samad melihat kasus yang menimpa anak di NTT adalah bukti kegagalan distribusi keadilan. Pertama, kegagalan birokrasi dan perangkat desa (RT/RW) dalam memverifikasi data kemiskinan hingga pada level atas memfasilitasi hak-hak warga mendapatkan perlindungan untuk hidup aman, nyaman Sejahtera di negaranya. Kedua, korupsi yang semakin subur yang berdampak pada kemiskinan masyarakat. Lemahnya penegakan hukum terhadap pelaku kejahatan kerah putih (white-collar crime). Uang triliunan yang hilang dalam skandal saham gorengan tersebut dinilai cukup untuk membiayai sekolah seluruh anak di pelosok NTT hingga jenjang universitas. Dan tentu beberapa kasus korupsi lainnya.




parahh euyy