Oleh: Dr. Ahmad Yani, SH. MH., Ketua Umum Partai Masyumi
Di Washington maupun di Israel, sebuah asumsi yang sudah biasa terjadi tetap ada: bahwa tekanan, sanksi, isolasi, dan tekanan militer yang cukup, pada akhirnya akan memaksa pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, untuk menyerah. Tetapi pada akhirnya Washington maupun Tel Aviv salah perhitungan.
Asumsi itu sangat keliru bagi mereka yang memahami sosok yang berada di pusat sistem politik Iran. Khamenei bukan hanya sebagai pemimpin politik, ia juga adalah pemimpin spiritual yang membimbing rakyat Iran pada nilai-nilai yang luhur.
Khamenei tidak akan menerima “Penyerahan tanpa syarat,” bukan karena ia salah membaca peta kekuatan militer dan bukan pula ia meremehkan kehancuran ekonomi bagi negaranya. Ia tidak akan menyerah karena, dalam pandangan dunianya, penyerahan bukanlah sebuah keputusan yang menguntungkan. Mengalah di bawah tekanan Amerika dan Israel justru akan menghancurkan esksistensi politik, budaya dan bangsanya.
Untuk memahami hal ini, seseorang harus mulai bukan dengan menggunakan rudal, tetapi dengan identitas. Imam Khomeini dan Ali Khamenei telah meletakkan dasar-dasar Republik Islam dan identitas Islam yang lebih kuat bahkan lebih ketat. Identitas kebudayaan Persia dengan segala arsitektur kekuasaannya dalam sejarah serta identitas politik Islam yang menjadi pondasi pemerintahan Republik Islam, menjadi benteng moral bagi Pemerintahan dan Rakyat Iran.
Keandalan sistem politik yang menempatkan struktur ulama sebagai pemegang kekuasaan tertinggi (wilayatul faqih) telah menciptakan pemerintahan yang lebih rapi. Sistem kaderisasi kepemimpinan dilandaskan pada nilai agama dan nilai moral yang ketat, yang memungkinkan semua calon penerus pemimpin Republik Islam memiliki kepribadian yang kuat, identitas politik yang mengakar dan kesalihan yang berwibawa, sehingga mereka patut untuk ditaati dan dihormati sebagai ulil amri.
Tidak mengherankan, meskipun bom telah membunuh Ayatollah Ali Khamenei dan beberapa tokoh penting Iran, pemerintahan Iran tetap menyediakan transisi politik yang secara otomatis bagi penerus kekuasaan imam. Tidak ada krisis kepemimpinan, tidak ada krisis politik, karena seluruh rakyat patuh taat terhadap kekuasaan para ulama (faqih).
Kesyahidan Ali Khamenei di Usianya 86 tahun, sudah lebih dari cukup untuk meninggalkan warisan sistem politik dan sistem pemerintahan yang kuat dan andal. Selain mewariskan sistem politik, ia juga mewariskan semangat perlawanan yang tak akan musnah. Seperti para pendahulunya, darahnya akan menjadi obor yang menerangi jalan generasi berikutnya. Syahadah adalah puncak kehormatan yang didambakan para pejuang kebenaran.
Iran memiliki Garda Revolusi yang tumbuh dari pasukan revolusioner menjadi jantung kekuatan Republik Islam. IRGC bukan hanya tentara sebagai kekuatan militer. Ia adalah jaringan ekonomi, intelijen, patronase, dan ideologi. Ia menjadi bagian kunci bagi negara Iran secara internal, yang menentukan bagi Republik Islam.
Upaya Donald Trump dan Benjamin Netanyahu untuk menggulingkan Pemerintahan Islam dengan menggantinya dengan rezim boneka hanyalah utopia belaka, agak mustahil terjadi, seperti yang pernah mereka lakukan kepada Venezuela. Iran memiliki sistem pemerintahan yang tidak mengandalkan individu tunggal, tetapi menciptakan kepemimpinan kolektif ditingkat paling tinggi, yaitu ulama sebagai pemegang otoritas tertinggi.
Kekeliruan hitungan geopolitik Trump menyeret AS menyerang Iran atas hasutan Benjamin Netanyahu adalah kekeliruan yang sangat fatal. Tadinya mereka berpikir bahwa ide untuk menggulingkan pemerintahan dengan melenyapkan pemimpin tertinggi Iran adalah jalan satu-satunya. Justru ide keliru itu menyeret AS menjadi alat Israel untuk berperang bersama melawan Iran.
Akibatnya, AS mengalami kerugian yang cukup besar menghadapi serangan Iran. Sementara Israel menghadapi kekacauan dan kehancuran yang sangat dahsyat. Donald Trump telah salah secara geopolitik, dan memperbaharui ulang upayanya untuk mengambil alih pemerintahan di Iran. Kini dia fokus melindungi pangkalan militer AS di negara-negara timur Tengah yang diserang secara massif oleh Rudal Iran.
Perang berkecamuk, bahkan Trump mulai memperkiran Perang itu akan berlangsung selama empat Minggu. Tapi apakah benar bahwa perang akan berlangsung sesingkat itu, ataukah akan terjadi ketegangan yang belangsung lama yang akan menyebabkan kekacauan yang panjang bagi Timur tengah?
Serangan Iran terhadap Bahrain, Uni Emirat Arab, Qatar, dan Saudi Arabiah telah menyasar seluruh Pangkalan Militer AS yang digunakan oleh AS untuk menyerang Iran. Perlu diketahui Iran tidak berperang dengan Negara-negara Islam itu, tetapi Rudal Iran menargetkan seluruh infrastruktur militer AS di negara tersebut.
Kebohongan Trump
Di tengah situasi Timur Tengah yang memanas, kita patut menyadari satu hal, yaitu kebohongan Trump dan Israel. Mereka ingin mengajak seluruh negara kawasan untuk ikut menyerang Iran.
Kedua maniak Perang ini ingin semua negara-negara Muslim memusuhi Iran dengan sentimen Sunni vs Syiah. Namun sentimen itu tidak berlaku, meskipun negara-negara muslim Sunni merasa tidak aman akibat adanya serangan rudal Iran di wilayah mereka. Tapi iran punya alasan yang sah, yaitu membalas serangan AS-Israel dengan menargetkan Pangakalan Militernya.
Meskipun upaya untuk mengajak negara-negara Islam menyerang Iran agaknya tidak berhasil, namun Trump telah berhasil membohongi pemimpin-pemimpin negara di dunia dengan membentuk sebuah Badan Perdamaian (Board of peace).
Badan bentukan Trump ini telah menyeret negara dengan populasi Muslim terbanyak di Dunia, seperti Indonesia menjadi “boneka Amerika”. Sesaat setelah badan perdamaian itu dibentuk, Trump melakukan serangkaian serangan militer ke beberapa negara.
Operasi militer di Wilayah Gaza terus terjadi, tidak ada perdamaian, yang ada dominasi politik AS untuk membohongi negara-negara mayoritas Islam. Board of Peace hanyalah upaya mendiamkan negara itu agar membela tindakan Trump bahkan dengan melakukan kejahatan perang.
Karena itu saya mendukung desakan Majelis Ulama Indonesia (MUI) agar Indonesia keluar dari BoP, karena sumber kekacauan ini adalah Ketua BoP itu sendiri, yaitu Donald Trump. Dan posisi Indonesia sebagai negara Anggota BoP tidak memberikan nilai lebih bagi posisi Indonesia dalam diplomasi Internasional. Malah menurut saya, Indonesia terlihat menjadi kerdil, hanya menjadi juru kampanye Israel. Tidak ada manfaatnya bagi perdamaian dunia dan kemerdekaan Palestina.
Justru BoP digunakan Trump menjadi organisasi yang menginisiasi perang, menyerang negara lain dan membuat kekacauan dunia. Lalu apa yang diharapkan dari BoP? Mampukah Indonesia dengan misi perdamaiannya mengajak Trump untuk berdamai dengan Iran? Ini merupakan hal yang mustahil, apalagi menjadi mediator perdamaian, mengutip Dino Patti Djalal, “sesuatu yang tidak masuk akal”.
Runtuhnya Mitos AS-Israel
Perang yang diperkiran hanya berlansung empat hari kita telah diperbaharui bisa sampai empat-lima minggu. Trump telah mengatakannya, bahwa dia memperkirakan perang ini menjadi bermingu-minggu.
Sementara Iran siap menghadapi perang ini sampai April, atau bahkan sampai mereka meraih kemenangan. Tekad ini bukan hanya untuk menghitung kalkulasi kemenangan, tetapi perang menjaga martabat bangsanya.
Kini situasi geopolitik dunia sedang berkecamuk, dan kita melihat runtuhnya mitos super power dunia. Kekuatan militer mereka yang selama ini kita takutkan, dengan menebar ancaman yang mengerikkan kepada negara-negara di dunia, justru tidak sedahsyat yang dibayangkan.
Iran telah meruntuhkan mitos itu, dan dunia melihat bagaimana sulitnya Amerika-Israel menundukkan negara itu, bahkan dengan mengajak seluruh dunia sekalipun. Dan Iran mengajarkan kepada kita tentang keteguhan dan kesabaran revolusioner untuk menghadapi keangkuhan bangsa-bangsa penajajah.
Ayatollah Ali Khamenei telah benar, dia telah memberi pesan bahwa mereka akan mati di tanah Iran, dan tidak akan pernah tunduk sedikitpun. Dan itulah yang sedang dipertahankan oleh Iran.




yang kali ini bener bener kacau dahh pokoknyaa