JAKARTA – Direktur Lingkar Madani (Lima), Ray Rangkuti menggunakan analogi yang menohok untuk menyindir wacana pengembalian Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) ke tangan DPRD. Dalam sebuah diskusi di kanal YouTube Abraham Samad Speak Up, Ray mengibaratkan hak pilih rakyat seperti hak anak muda dalam menentukan pasangan hidupnya ditentukan orang lain. Analogi Ray Rangkuti ini sengaja dibangun untuk menyentuh kesadaran generasi muda bahwa isu Pilkada DPRD bukan sekadar urusan hukum yang kaku, melainkan soal perampasan hak privat warga negara dalam menentukan masa depan daerahnya sendiri.
Analogi “Pilih Jodoh”: Mandat Rakyat vs Pilihan Elit
Ray menjelaskan bahwa memaksakan Pilkada melalui DPRD sama saja dengan merampas hak otonomi individu. Ia memberikan gambaran yang sangat relevan dengan kehidupan generasi muda saat ini mengenai kebebasan memilih.
“Bayangkan anak-anak Gen Z sekarang. Misalnya kita tanya, pilih mana, apakah anda mau kamipilihkan jodohnya atau anda milih sendiri?Tentu mereka ingin memilih sendiri siapa yang akan mendampingi hidup mereka,” ujar Ray menjelaskan begitulah perumpamaan sederhana dalam pilkada. Ray tidak sependapat argumentasi yang dibangun para elit selama ini bahwa pilkada langsung dan tidak langsung sama sama demokratis.
‘’Di mana samanya, sudah jelas itu beda. Bahwa tujuannya sama, iya betul sama sama mencari pemimpin. Tapi cara mendapatkannya, itu dua hal yang berbeda,’’ ujar Ray Rangkuti.
Menurut Ray, kepala daerah adalah “pendamping” bagi rakyat di daerah selama lima tahun. Jika hak pilih itu ditarik ke DPRD, maka rakyat dipaksa menerima “jodoh” (pemimpin) hasil pilihan elit politik yang belum tentu sesuai dengan selera atau kebutuhan rakyat di akar rumput.
‘’Anda itu (DPRD), sepanjang waktu, selama ini saya tidak pernah percaya oleh rakyat. Kok tiba – tiba urusan pemilihan kepala daerah ini, saya percaya untuk anda pilihkan seorang pemimpin? Logikanya di mana,’’ ujarnya bertanya. Bagaimana kita mempercayakan pemilihan kepala daerah kepada DPRD di tengah merosotnya kepercayaan publik terhadap DPRD.
“Masalahnya, Anda (anggota DPR/DPRD) sedang tidak dipercaya oleh (rakyat). Anda sedang mengalami distrust. Lalu tiba-tiba Anda datang dan bilang, ‘Biarkan kami yang memilihkan pemimpin untukmu’. Jelas rakyat akan menolak keras!” tegas Ray.
Bahaya “Perjodohan Politik” di DPRD tidak akan memiliki ikatan batin atau tanggung jawab kepada rakyat. Bahkan berpotensi terjadi konflik.




What’s up mates, its fantastic paragraph on the topic of educationand entirely explained, keep it up all the time.
I really love your blog.. Excellent colors & theme. Did you develop this website yourself?
Please reply back as I’m looking to create my own personal blog
and would like to know where you got this from or just what
the theme is called. Thanks!
Hi there it’s me, I am also visiting this website regularly, this web site is genuinely
good and the people are in fact sharing nice thoughts.
Heya superb blog! Does running a blog like this require a
great deal of work? I have very little understanding
of programming but I was hoping to start my own blog soon.
Anyway, if you have any recommendations or techniques
for new blog owners please share. I know this is off subject
but I simply had to ask. Appreciate it!
I really like your blog.. very nice colors & theme. Did you make this website yourself or did you
hire someone to do it for you? Plz reply as I’m
looking to design my own blog and would like
to know where u got this from. cheers
It is truly a great and helpful piece of info.
I am happy that you simply shared this helpful
info with us. Please keep us up to date like this. Thank you for sharing.