JAKARTA – Pakar Hukum Internasional, Prof. Hikmahanto Juwana, meluapkan kemarahannya terhadap sikap Presiden AS Donald Trump yang dinilai merendahkan martabat Indonesia. Hikmahanto mendesak pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto untuk segera angkat kaki dari keanggotaan Board of Peace (BoP). Demikian ditegaskan saat tampil dalam podcast kanal YouTube Abraham Samad Speak yang diunggah kemarin.
Penghinaan Terhadap Kedaulatan
Hikmahanto dalam wawancara bersama Abraham Samad, mantan Ketua KPK mengaku geram melihat perlakuan Trump terhadap Presiden Indonesia dalam berbagai pertemuan diplomatik. Ia menilai posisi Indonesia tidak lagi dianggap sebagai mitra setara, melainkan sekadar “anak didik” yang harus tunduk pada agenda Amerika.
“Saya terus terang marah sama Trump! Dia memperlakukan Presiden kita seolah-olah tidak punya harga diri. Kita ini mewakili 280 juta rakyat, bukan negara bawahan yang bisa didikte begitu saja,” tegas Hikmahanto dalam diskusi terbaru.
BoP: Jebakan Melanggengkan Penjajahan
Terkait keterlibatan Indonesia dalam Board of Peace (BoP), Hikmahanto memberikan peringatan keras. Menurutnya, lembaga bentukan Trump tersebut bukan wadah perdamaian, melainkan instrumen untuk melegalkan kepentingan Israel di Gaza.
- Veto Trump: Di dalam BoP, Trump memiliki kekuasaan sebagai chairman yang bisa membatalkan suara mayoritas. Indonesia tidak akan pernah bisa mengubah kebijakan dari dalam.
- Melanggar UUD 1945: Bergabungnya Indonesia di BoP dinilai melanggengkan penjajahan Israel, yang secara terang-terangan bertentangan dengan amanah pembukaan UUD 1945.
- Risiko Pasukan: Hikmahanto mencemaskan rencana pengiriman 8.000 pasukan Indonesia ke Gaza. Bukannya menjaga perdamaian, pasukan TNI berisiko dijadikan alat oleh Israel untuk melucuti senjata pejuang Palestina.
Momentum Keluar dari BoP
Serangan brutal Amerika-Israel terhadap Iran baru-baru ini harus menjadi titik balik bagi diplomasi Indonesia. Hikmahanto menilai tidak ada gunanya Indonesia bertahan dalam organisasi yang didominasi oleh negara agresor.
“Buat apa kita ada di BoP kalau kita tidak bisa mencegah Amerika menyerang Iran atau Israel membantai Gaza? Indonesia harus keluar sekarang juga! Jangan mau jadi tukang pukul atau bemper kepentingan mereka,” ujarnya lugas.
Ia pun meminta DPR RI untuk pasang badan dengan menolak ratifikasi perjanjian apa pun terkait BoP dan perdagangan (ART) yang merugikan kedaulatan nasional. “Harga diri bangsa tidak bisa ditukar dengan tarif dagang atau janji investasi,” pungkasnya.



