JAKARTA – Mantan Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Saut Situmorang, memberikan potret kelam mengenai kondisi korupsi di Indonesia yang dinilainya semakin brutal. Selain menyoroti Operasi Tangkap Tangan (OTT) yang menjerat Walikota Madiun dan Bupati Pati, Saut mengungkap fakta miris mengenai pola korupsinya yang semakin brutal berani merambah hingga pemerasan ke level paling bawah aparat desa.
‘’Kalau dulu, bias akita dengar Kepala Daerah mainnya hanya sampai pada level Kepala Dinas. Jual beli jabatan hingga tekanan fee proyek. Tapi sekarang ini malah sudah brutal bahkan sampai ke level bawah kepala desa dan aparatnya,’’ ujar Saut seperti dikutip di kanal you tube Abraham Samad Speak UP.
Saut menyebut situasi sekarang ini seolah sudah tidak terkendali lagi. Moralitas sudah hampir tidak ada lagi. ‘’Pemerintahan Desa itu bukan bagian dari struktur langsung kepala daerah, tapi mereka berani menyasar ke sana,’’ ujarnya penuh tanya. Saut dengan gaya bicara yang Lukas mengaku tidak menemukan satu petunjuk yang menguatkan Kepala Daerah menjadikan Kepala Desa sebagai sasaran perah.
‘’Di mana mereka (kepala desa) akan mengambil duit. Gaji mereka saja Cuma berapa. Apakah mereka akan korupsi dana desa, MBG, Koperasi Merah Putih,’’ tanyanya.
Dalam bincang hangat yang dipandung langsung mantan Ketua KPK Dr. Abraham Samad SH., Saut menyebut bahwa penangkapan kepala daerah di Madiun dan Pati hanyalah puncak gunung es dari sistem yang sudah “sakit” dari hulu hingga hilir.

Hampir ‘Di-nepalkan’ dan Kebobrokan Daerah
Saut kembali mengingatkan betapa sulitnya menjerat aktor-aktor daerah yang memiliki jaringan kuat. Ia mencontohkan kasus Bupati Pati yang menurutnya sebelum OTT sesungguhnya sudah sempat didemo warganya, bahkan sudah sempat hampir “di-nepalkan” tapi lolos.
Menurut Saut, pola di Madiun dan Pati itu membuktikan bahwa daerah kita masih terjebak dalam syahwat kekuasaan yang koruptif. Dan lebih mengerikan sekarang adalah keganasan polanya. Pelaku korupsi tidak lagi punya rasa malu atau takut.
Korupsi Ganas: Kepala Desa Jadi Korban Pemerasan
Poin paling memprihatinkan yang diangkat Saut adalah pergeseran pola korupsi yang kini kian predatoris. Jika dulu korupsi identik dengan suap proyek besar, kini ia melihat adanya praktik pemerasan sistematis yang menyasar tingkat paling bawah, yakni kepala desa.
“Sekarang polanya makin ganas. Kita mendengar bagaimana oknum-oknum menggunakan kewenangannya untuk memeras kepala desa terkait dana desa atau perizinan lokal. Ini bukan lagi sekadar korupsi, ini adalah penindasan sistemik,” tegasnya.
Menurut Saut, fenomena ini terjadi karena pengawasan dari pusat dan lembaga antirasuah mulai melemah secara substansi. Ketika lembaga penegak hukum kehilangan taji dan integritasnya di mata publik, para “predator” di tingkat menengah dan bawah merasa mendapat angin segar untuk melakukan pungutan liar dan pemerasan.




kacau balau