JAKARTA – Aroma busuk “koncoisme” di lingkar kekuasaan kembali menyengat. Pakar Otonomi Daerah dan mantan Dirjen Otda, Prof. Djohermansyah Djohan, membedah tuntas fenomena Koperasi Merah Putih yang secara mengejutkan mendatangkan 1.200 unit mobil dari India di tengah narasi “Cintai Produk Dalam Negeri”. Memang betul beberapa pejabat menyebut akan menunda pengadaan mobil tersebut, tapi faktanya barangnya sudah ada yang tiba di tanah air.
Dalam kanal YouTube Abraham Samad SPEAK UP, Prof. Djo tidak hanya mengkritik, tetapi menelanjangi ketidakjelasan status hukum dan regulasi yang menyelimuti entitas tersebut. Menurutnya, ini bukan sekadar urusan dagang, tapi demi keuntungan kelompok tertentu.

Berikut adalah poin-poin “tamparan keras” Prof. Djohermansyah:
1. Entitas Siluman: Bisnis Privat Berjubah “Merah Putih”
Prof. Djo demikian biasa disapa mempertanyakan keberanian sebuah koperasi menggunakan nama “Merah Putih” dan seragam di seluruh penjuru.
‘’Ini mirip dulu waktu orde baru Golkar berkuasa, semua menggunakan warna kuning,’’ ujarnya mempertanyakan penerapan keseragaman hingga penggunaan nama dan mungkin chat warna.
2. Pengkhianatan Terhadap Hilirisasi dan Industri Lokal
Di saat Presiden berteriak soal hilirisasi dan bangga buatan Indonesia, Koperasi Merah Putih justru memboyong 1.200 unit mobil Suzuki/Maruti dari India. Prof. Djo menyebut ini sebagai “Ironi yang Menyakitkan” dan bisa dimaknai sebagai bentuk pengkhianatan terhadap industri otomotif nasional yang sedang kita bangun.
Langkah pemerintah serta merta membangun kesepakatan dengan pengadaan mobil impor dari India mempertontonkan kebijakan yang tidak hanya keliru namun lebih jelasnya mengundang persepsi bila lingkaran kekuasaan sudah menjadi agen utama importir mobil asing.
3. Neo-Patrimonial: Kembalinya Era “Kroniisme” Gelap
Lebih jauh, Prof. Djo melihat adanya gejala Neo-Patrimonialisme, di mana akses ekonomi dan izin impor massal hanya diberikan kepada mereka yang memiliki “jalur pendek” ke pusat kekuasaan. Seolah kembali ke zaman kegelapan, di mana kedekatan dengan penguasa adalah modal utama bisnis, bukan persaingan sehat.
‘’1.200 mobil itu sudah masuk di Indonesia tidak mungkin masuk tanpa fasilitas khusus. Siapa yang membukakan pintunya? Ini yang harus diaudit. Semua harus transparan,’’ jelasnya.
sumber : (82) 1200 Mobil dari India Sudah Tiba Untuk Koperasi Merah Putih | #SPEAKUP – YouTube




ini sih kacau negara ga mau ke tinggalan gengsi sama trend makanya maksa beli mobil india