Foto: Abraham Samad SPEAK UP
Tugas Utama Polisi, Amankan Unjuk Rasa supaya tidak ada Korban
- Oegroseno : Terjadi Banyak Pelanggaran Aparat Saat di Lapangan
Jakarta— Mantan Wakapolri Komjen (Purn) Oegroseno blak-blakan menyebut terjadinya banyak pelanggaran saat pengamanan aksi unjuk rasa akhir Agustus lalu. Dampaknya, menimbulkan korban meninggal sampai 10 orang mahasiswa dan masyarakat. Ini belum termasuk ratusan korban yang mengalami luka serius dan ringan tersebar di seluruh Indonesia. Oegro menegaskan seandainya aparat selama ini benar benar paham maksud tujuan mereka ditugaskan di lapangan serta memedomani setiap peraturan yang ada, maka tragedi kelabu Agustus itui tidak perlu terjadi.
‘’Aparat Kepolisian wajib mengamankan pendemo. Bukan melakukan represif. Jadi harus diamankan supaya jangan ada korban,’’ ujarnya saat tampil di chanel Abraham Samad Speak UP.
Menurut Oegroseno, kalaupun dalam aksi unjuk rasa melibatkan dua kubu pro dan kontra serta diperkirakan akan terjadi konflik, maka aparat bertanggungjawab mengatur strategi pengamanan agar supaya kedua massa pro dan kontra tersebut tidak bertemu.
‘’Jadi jangan sampai menjadi suatu pola bahwa massa berunjuk rasa begitu dikatakan anarkis oleh aparat harus melawan aparat. Kan tidak imbang. Di sini (petugas polisi –red) kekuatannya pasukan lengkap bersenjata. Yang di sini (massa) hanya mungkin ada yang seperti membawa alat yang membahayakan jiwa manusia, harus diamankan. Dan Itu ada tahapannya. Jadi semua harus dikembalikan kepada Undang undangnya,’’ tambahnya.
Dikatakan sekarang ini selain ada UU yang secaara khusus mengatur penyampaian aspirasi juga ada Peraturan Kapolri (Perkapolri) No 1 Tahun 2009 yang mengatur secara rigid penggunaan kekuatan dalam tindakan Kepolisian.
‘’Perkapolri ini hanya 17 pasal. Kalau benar- benar mau dipelajari oleh seluruh anggota Polri di Indonesia, saya rasa tidak akan ada korban yang berjatuhan, baik itu masyarakat maupun aparat dan kerusakan fasilitas umum,’’ jelasnya . Disayangkan, berdasarkan hasil pengamatan di lapangan ditemukan banyak terjadi pelanggaran protap pengamanan. Bahkan ada petugas ditserse justru berada di lapangan dengan pakaian seragam Kepolisian.
Oegro Seno diundang Abraham Samad Speak UP dalam kapasitasnya sebagai purnawirawan polisi yang punya pengalaman bertugas memimpin langsung pengamanan aksi unjuk rasa di. Surabaya saat reformasi tahun 1998. Berlangsung sukses damai tanpa ada korban. Bahkan saat itu berlangsung aksi berhari hari, namun oleh pihak Kepolisian tidak pernah menggunakan satupun peluruh tajam. (ASA)



