Foto: diskusi dalam kanal youtube Abraham Samad SPEAK UP (ASA Indonesia)
Jakarta – Jurnalis senior yang juga salah satu pendiri Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI) di era rizem Soeharto membuat perumpamaan atau analogi profesi politikus sesungguhnya kurang lebih sama dengan profesi prostitusi alias pelacur. Perumpaan ini dilontarkan Lukas Luwarso ketika tampil dalam wawancara di kanal Youtube Abraham Samad Speak. Meski demikian, Lukas Luwarso yang juga mantan Ketua AJI pertama buru buru mengklarifikasi Perumpamaan poltikus dan pelacur tersebut hanya ditujukan kepada politikus busuk.
‘’Jadi para politisi yang baik sampean tidak perlu terburu- buru tersinggung. Ini hanya analogi yang berlaku bagi politisi busuk. Tidak kepada politisi yang baik,’’ ujarnya lagi.
Menurut Lukas, sekarang ini popularitas Jokowi sudah melorot. Bahkan sudah menjadi publik endemic yang sudah mulai ditinggal pergi oleh para pemujanya. Satu persatu relawannya sudah bubar. Dan sayangnya Jokowi tidak menyadari semua ini. Bahkan merasa masih terus punya nilai jual atau pengaruh. ‘’Politikus busuk itu sama dengan pelacur. Selalu berupaya percaya diri merasa masih punya nilai jual, dan semua hanya mencari kenikmatan untuk dirinya saja,’’ Ujarnya lagi menambahkan bagi politikus busuk tidak akan pernah ada dalam dirinya mengenal moral dan etika. Yang dominan hanyalah kepentingan dirinya terpenuhi.
‘’Saya suka menganalogikan politikus itu seperti prostitutet. Seperti pelacur analoginya. Politikus dan pelacur yang bennar itu tahu diri. Kapan harus berhenti. Tapi bagi politikus busuk, orang yang tidak tahu diri, dia akan terus menawarkan diri meskipun sudah tidak laku dijual. Dia sudah peyok, kurus kering tidak menarik bahkan mungkin sudah penyakitan’’.
Lukas Luwarso yang juga mantan pengurus Kontras saat itu dimintai tanggapannya terkait pernyataan mantan Presiden Jokowi yang tiba-tiba mengaku telah menginstruksi, perintahkan relawannya untuk bekerja mendukung kepemimpinan paket Prabowo – Gibran untuk dua periode ke depan. Sikap ini mengundang rekasi negative para nitizen menganggap tidak pantas membahas kekuasaan di saat negara bersama rakyat sedang berupaya keras keluar dari kesulitan ekonomi. Apalagi pemilunya sendiri masih sangat jauh.
‘’Kalau dianalogikan sebagai aktor sekarang Jokowi sudah ketahuan aslinya. Belasan tahun lalu sejak dia jadi Walikota, Gubernur dan jadi Presiden ingin menunjukkan dirinya sebagai orang biasa yang orientasinya kerakyatan. Tapi semakin ke sini, sekarang kelihatan semua. Terbongkar semua, sudah kelihatan watak aslinya. Ibarat ulat bermetamorposis menjadi sangat mengerikan. Watak aslinya sangat egois mementingkan diri dan keluarganya,’’ jawabnya.
Menurutnya Jokowi meski terbilang cukup lama di pemerintahan, namun tidak memiliki sentivitas. Bahkan tidak memiliki kemampuan deplomasi, tidak memiliki kemampuan merasionalitas tentang esensi dia sudah dipercaya menduduki jabatan publik mulai dari Walikota, Gubernur hingga Presiden.
‘’Mestinya kalau dia memang benar memahami konsep sebagai politikus maka tidak akan membuat pernah membuat pernyataan semacam itu (dukung Prabowo dua periode). Munculnya Jokowi di publik menunjukkan kegenitannya sebagai politikus, manipulative,’’ ujarnya lagi.



