Jakarta – Pertemuan Presiden Prabowo dengan Jokowi di Kertanegara, Jakarta Selatan beberapa hari lalu masih terus menjadi pembicaraan public dan menimbulkan beragam spekulasi. Semua dipicu karena dua hal, pertama pertemuannya terkesan sangat mendadak dan undang. Kedua karena pertemuan tersebut adalah inisiatif pribadi Jokowi yang harus mendatangi Prabowo ke Jakarta. Tidak seperti yang terjadi selama ini, Prabowo yang berkunjung ke Solo.’
Mantan anggota Badan Intelejen Negara (BIN) Kolonel Inf (Purn) Sri Radjasa Chandra melihat pertemuan tersebut ini bukan sekadar silaturahmi biasa, melainkan memiliki muatan politis yang signifikan terutama diri Jokowi yang membutuhkan perlindungan atas berbagai masalah yang sedang dihadapi diri dan keluarganya, mulai dari isu kasus ijazahnya hingga tuduhan berbagai kasus pidana lainnya ikut namanya dikait-kaitkan. Sri Radjasa menduga Jokowi datang ke Prabowo untuk “menagih utang politik” .

‘’ mungkin sedang mencari semacam suaka politik,’’ ujarnya seperti dikutip di kanal Youtube Abraham Samad Speak UP. Sri Radjasa dengan pengalaman sebagai anggota intelejen negara yang cukup lama tampil dalam podcast tersebut dengan gaya bicara yang lugas, santai memperlihatkan sosok yang sangat percaya diri dengan informasi yang disampaikan adalah informasi di belakangan layar dan terverifikasi.
‘’Ini informasi dari dalam. Saya peroleh langsung,’’ katanya singkat seolah ingin meyakinkan publik dengan informasi yang di sampaikan.
‘’Jadi saya ingin tegaskan pertemuan itu murni inistaitif Pribadi Jokowi untuk bertemu Prabowo. Tidak ada agenda lain,’’ tambahnya.
Sebagai mantan intelijen, Sri Radjasa menyebut bahwa pertemuan Prabowo dengan Jokowi sarat dengan pesan simbolik dan strategi politik tingkat tinggi. Jokowi sedang berusaha mengamankan posisi politiknya dan keluarganya di tengah situasi dan dinamika politik belakangan semakin tidak menentu. Si Radjasa juga menambahkan sekarang ini ada kekhawatiran dari pihak Jokowi terkait isu ijazah Gibran yang bisa berdampak pada legitimasi sebagai Wakil Presiden. Apalagi dengan ramainya di medsos yang mulai mengkritisi ke absahan dokumen yang digunakan saat maju mendaftar sebagai calon wakil presiden berpasangan Prabowo Subianto.



