Jakarta – ASA Indonesia. Sengkarut Proyek Kereta Cepat Jakarta – Bandung (KCJB) yang kemudian berganti nama menjadi Kereta Whoosh terus menyita perhatian publik. Semua bermula ketika Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya melontarkan pernyataan ogah (keberatan) utang Whoosh ke Cina dibebankan ke negara dengan menggunakan dana APBN dan menyerahkan menjadi tanggungjawab Danantara sebagai pihak yang bertanggungjawab.
Podcast Abraham Samad Speak Up secara khusus menghadirkan Dr. Muhammad Said Didu membahas sengkarut kereta whoosh. Said Didu adalah sosok yang pernah menjabat sekretaris BUMN selama 6 tahun, sehingga dianggap cukup memilki pengetahuan dan informasi tentang seluk beluk proyek KCJB tersebut.
Dalam podcastnya, Abraham Samad yang juga mantan Ketua KPK Periode 2011-2015 sepertinya tidak hanya focus membahas utang whoosh yang menumpuk serta perdebatan mekanisme pembayaran dan siapa yang bertanggungjawab membayarnya. Namun Abraham Samad sebagai host saat itu sesuai keahliannya berhasil menggali lebih dalam potensi dan modus operansi praktik korupsi dibalik proyek tersebut. Ia kemudian memberi judul dalam podcastnya : Said Didu: Usut Dugaan Korupsi Kereta Whoosh, Awas Jebakan Luhut ke Prabowo dengan durasi waktu pembincangan ±45 menit.

Berikut ini adalah point penting yang dibicarakan
⏱️ Menit 00:00 – 05:00
- Abraham Samad membuka dengan menyebut bahwa proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) menjadi sorotan publik dan harus dibuka secara luas agar publik mengetahui sekaligus bisa berpartisipasi melakukan pengawasan.
- Said Didu menegaskan pendapatnya bahwa proyek ini adalah tanggung jawab pemerintah, bukan swasta. Dasarnya, Ia menyebut dua Perpres: No. 107/2015 dan No. 93/2021 sebagai bukti bahwa BUMN ditugaskan oleh negara.
⏱️ Menit 05:00 – 15:00
- Said Didu mengkritik narasi bahwa proyek KCJB tidak menggunakan APBN, padahal faktanya tidak demikian.
- Said menjelaskan bahwa penugasan kepada BUMN berarti negara ikut menanggung risiko.
- Menyebut pembengkakan biaya dari Rp 86 triliun menjadi Rp 113 triliun.
- Menyoroti bahwa sebagian pembiayaan ditanggung oleh APBN melalui Penyertaan Modal Negara (PMN).
⏱️ Menit 15:00 – 25:00
- Said Didu menyindir Luhut Binsar Pandjaitan sebagai tokoh yang mendorong proyek ini.
- Said menuding Luhut kini ada niat “menghindar” dari tanggung jawab dengan membuat pernyataan bahwa proyek tersebut sudah busuk dari awal sebelum dirinya terlibat. Seolah ingin cuci tangan sekaligus menyalahkan Jokowi. Padahal faktanya tidak demikian, Luhut sejak awal aktif terlibat bersama Rini, Budi dan tentu Jokowi.
- Said juga menyebut pernyataan Luhut bahwa Cina bisa melakukan restrukturisasi utang di whoos dengan syarat mengembangkan proyek whoosh dengan memperpanjang jarak lintasan rel sampi Surabaya. Pernyataan tersebut dianggapnya bisa menjadi “jebakan politik” terhadap Prabowo.
- Abraham Samad menekankan pentingnya transparansi dan akuntabilitas dalam proyek strategis nasional.
⏱️ Menit 25:00 – 35:00
- Said Didu mulai membongkar modus operansi praktik kongkalikong dalam proyek tersebut.
- Said Didu agar KPK dan aparat hukum mengusut dugaan korupsi dalam proyek KCJB, dan pihak yang paling bertanggungjawab tentu adalah Jokowi pada level paling atas bersama Luhut, Rini dan Budikarya
- Ia menyebut potensi korupsi dalam pengadaan, pembengkakan biaya, dan ketidakefisienan proyek.
- Menyebut bahwa proyek ini tidak menjawab kebutuhan rakyat, karena jalur Jakarta-Bandung sudah memiliki banyak moda transportasi.
⏱️ Menit 35:00 – 45:00
- Diskusi ditutup dengan ajakan agar masyarakat lebih kritis terhadap proyek-proyek besar.
- Abraham Samad menyatakan bahwa suara seperti Said Didu penting untuk menjaga demokrasi dan kontrol publik.
- Said Didu menegaskan bahwa kritiknya bukan untuk menjatuhkan, tapi untuk menyelamatkan bangsa dari jebakan utang dan proyek gagal.




malu ama arab dananya cuman beda 1 triliun tapi lebih baik dan lebih bagus, parahnya di indonesia dana 113 triliun cuman dapet 142km, beda sama arab yang 112 triliun dapet 1.500km. perbanfingannya 1: 10