Analisis ‘Wajah Ganda’ Jokowi, Gagah di Podium PSI Tapi Rapuh di Hadapan Hukum

whatsapp image 2026 02 11 at 10.23.44

JAKARTA – Pakar politik Dr. Selamat Ginting menilai adanya anomali besar dalam perilaku politik mantan Presiden RI ke -7  Joko Widodo. Dalam diskusi tajam bersama mantan Ketua KPK Abraham Samad di kanal YouTube Speak Up, Ginting menyoroti kontradiksi antara kehadiran aktif Jokowi di Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dengan sikap absennya dalam berbagai proses persidangan yang menyangkut dirinya.

Ginting menilai fenomena ini sebagai bentuk “proteksi diri” berlapis untuk mengamankan legacy sekaligus menghindari jeratan hukum pasca-lengser.

PSI sebagai Tameng Politik

Kehadiran Jokowi di PSI, menurut Ginting, adalah upaya membangun barikade politik melalui instrumen partai yang bisa ia kendalikan secara personal. PSI dipandang bukan lagi sebagai partai ideologis anak muda, melainkan “sekoci” untuk mempertahankan pengaruh dinasti.

“Jokowi ini sedang membangun barisan pertahanan. Dia hadir di PSI untuk menunjukkan bahwa dia masih punya ‘pasukan’ meskipun sudah tidak di PDIP. Ini investasi politik agar dia tetap punya posisi tawar,” tegas Selamat Ginting.

Absensi Sidang: Menghindari De-legitimasi

Berbanding terbalik dengan kegagahannya berpidato di depan kader PSI, sikap Jokowi yang konsisten tidak hadir dalam persidangan (seperti gugatan ijazah atau dugaan perbuatan melawan hukum lainnya) disebut Ginting sebagai strategi untuk menghindari risiko hukum yang tak terkendali.

“Kenapa dia tidak datang ke pengadilan? Karena di sana dia tidak bisa memegang kendali narasi. Di PSI dia bisa bicara apa saja dan disambut tepuk tangan, tapi di persidangan ada bukti dan saksi. Absennya Jokowi adalah bentuk proteksi diri agar marwah kepresidenannya tidak runtuh sebelum waktunya,” ujar Ginting dengan nada lugas.

Jokowi bisa jadi ingin menunjukkan kepada  publik dan Prabowo  bahwa dia masih punya massa. Tapi di sisi hukum, dia sangat rapuh. Karenanya Jokowi lebih memilih jalur podium ketimbang jalur hukum.

‘’Dia tahu, sekali dia masuk ruang sidang, semua citra yang dibangun lewat PSI bisa menjadi peluru hampa,” lanjut Ginting.

Sikap Jokowi “pilih-pilih panggung” ini akan menjadi ujian bagi konsolidasi kekuasaan Prabowo Subianto. Apakah Prabowo akan tetap melindungi “investasi” politik Jokowi, atau membiarkan proses hukum berjalan sebagaimana mestinya tanpa campur tangan kekuasaan.

sumber : Promo terbatas | AI Website Builder | Hostinger.com/id

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top