JAKARTA — Sikap politik Presiden Terpilih Prabowo Subianto yang dinilai mulai menjaga jarak dari Presiden Joko Widodo terus memicu sorotan publik. Dinamika non-verbal—termasuk momen ketika Prabowo terlihat tidak menyalami Jokowi dalam sebuah acara—dianggap sebagai indikator awal pergeseran peta kekuatan politik nasional.
Analisis mendalam mengenai fenomena ini disampaikan oleh sosiolog dan pengamat politik dari Nanyang Technological University (NTU) Singapura, Prof. Sulfikar Amir, dalam perbincangannya yang dikutip dari kanal YouTube Abraham Samad Speak UP.
Menurut Prof. Sulfikar Amir, tindakan non-verbal dan bahasa tubuh (body language) para tokoh politik sering kali menyuarakan realitas yang jauh lebih jujur dibandingkan penyataan resmi atau pidato di depan publik.
Berikut adalah tiga poin utama analisis Prof. Sulfikar Amir yang disiarkan melalui kanal YouTube Abraham Samad Speak UP:
1. Penegasan Otonomi dan Legitimasi Kekuasaan
Prof. Sulfikar menjelaskan bahwa Prabowo merupakan figur berlatar belakang militer dengan rekam jejak kepemimpinan yang sangat kuat. Memasuki fase transisi kekuasaan, Prabowo perlu menegaskan batas otonomi kepemimpinannya agar tidak dipandang sekadar melanjutkan agend pendahulunya.
“Prabowo bukan tipe figur yang mau terus berada di bawah bayang-bayang pendahulunya setelah resmi memegang kendali. Tindakan menjaga jarak adalah sinyal pembatasan (drawing lines) untuk menunjukkan bahwa pemerintahan mendatang adalah Pemerintahan Prabowo, bukan Jokowi Jilid III,” ujar Sulfikar dalam tayangan tersebut.
2. Aliansi Taktis vs. Keterikatan Emosional
Dalam diskusinya bersama Abraham Samad, Sulfikar mengingatkan sejarah panjang persaingan antara Prabowo dan Jokowi pada Pemilu 2014 dan 2019. Kemitraan politik yang terbentuk pada Pemilu 2024 dinilainya bersifat pragmatis dan sementara.
“Kerja sama yang terjadi belakangan ini adalah aliansi taktis (tactical alliance), bukan keterikatan emosional yang mendalam. Ketika tujuan taktis untuk memenangkan pemilu sudah tercapai, daya tawar (leverage) politik secara otomatis bergeser penuh ke tangan Presiden Terpilih,” ungkapnya.
3. Sinyal Simbolis untuk Elite dan Pendukung
Gestur dingin atau pembatasan kontak sosial yang terlihat di ruang publik menjadi sarana komunikasi simbolis bagi Prabowo untuk mengirimkan pesan tegas kepada dua kelompok:
- Elite Politik & Partisan: Menegaskan pusat orientasi loyalitas baru di dalam jajaran eksekutif dan koalisi.
- Pendukung Setia Prabowo: Memberikan kepastian bahwa arah kebijakan dan visi personal Prabowo tidak tersubordinasi oleh pengaruh atau kepentingan kelompok lain.
“Dalam sosiologi politik, gestur dan tindakan non-verbal adalah indikator awal dari pergeseran dinamika kekuasaan (power shift). Ketika insentif untuk bersatu sudah selesai, yang tersisa adalah kompetisi pengaruh.”
— Prof. Sulfikar Amir (Dikutip dari kanal YouTube Abraham Samad Speak UP)
Prof. Sulfikar menyimpulkan bahwa ketegangan atau gesekan politik berpotensi semakin memuncak pasca-pelantikan, terutama apabila terjadi penyesuaian prioritas anggaran, pergeseran peran figur kunci, atau pemangkasan pengaruh politis di kabinet mendatang.



