JAKARTA — Kerukunan politik antara Presiden Joko Widodo dan Presiden Terpilih Prabowo Subianto diprediksi tidak akan bertahan selamanya. Di balik narasi “keberlanjutan” dan kekompakan yang ditampilkan ke publik, potensi keretakan yang berujung pada manuver saling serang diperkirakan hanya tinggal menunggu waktu.
Sosiolog dan pengamat politik dari Nanyang Technological University (NTU) Singapura, Prof. Sulfikar Amir, memprediksi bakal ada fase di mana Jokowi secara terbuka atau terselubung mulai menyerang kepemimpinan Prabowo. Analisis tajam tersebut disampaikannya dalam perbincangan di kanal YouTube Abraham Samad Speak UP.
Menurut Sulfikar, benturan kepentingan tidak terhindarkan begitu kekuasaan efektif berpindah secara penuh ke tangan Prabowo.
Tiga Pemicu Utama Konflik Jokowi vs Prabowo
Sulfikar membeberkan tiga poin krusial yang diyakini akan menjadi pemicu utama berakhirnya “bulan madu” politik kedua tokoh nasional tersebut:
1. Pembongkaran Kabinet dan Pembersihan Loyalis
Ketika Prabowo mulai mengonsolidasikan kekuasaannya, ia diprediksi akan menyisihkan atau memangkas peran loyalis-loyalis kunci Jokowi di kementerian dan lembaga strategis. Langkah pembersihan ini diambil demi memastikan kendali penuh berada di tangan lingkaran inti Prabowo.
2. Pergeseran Prioritas Anggaran dan Proyek Legacy
Risiko gesekan kian membesar jika Prabowo merombak alokasi APBN untuk mendanai program utamanya—seperti Makan Bergizi Gratis—dengan mengorbankan proyek warisan (legacy) Jokowi, seperti kelanjutan pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) atau program hilirisasi.
3. Marjinalisasi Peran Gibran Rakabuming Raka
Ancaman paling sensitif bagi Jokowi adalah masa depan politik keluarganya. Apabila posisi Gibran Rakabuming Raka sebagai Wakil Presiden dinetralkan atau sekadar dijadikan simbol tanpa wewenang eksekutif yang riil, Jokowi dipastikan tidak akan tinggal diam.
“Jokowi memiliki kepentingan besar pasca-presidensi, mulai dari keamanan politik keluarganya hingga keberlanjutan warisan kebijakannya. Ketika Prabowo mengusik kepentingan vital tersebut, Jokowi akan menggunakan basis relawan dan pengaruh politiknya sebagai penyeimbang (counter-power). Di situlah serangan politik akan dimulai.”
— Prof. Sulfikar Amir (Dikutip dari kanal YouTube Abraham Samad Speak UP)
Sulfikar menyimpulkan bahwa aliansi Jokowi dan Prabowo sejak awal dibangun di atas fondasi pragmatisme transaksional (tactical alliance). Dalam dinamika kekuasaan, ketika insentif untuk bersatu sudah habis, kompetisi antar-elite untuk berebut pengaruh secara otomatis akan mengemuka ke permukaan.



