Prof. Sulfikar Amir Ungkap Pemicu Retaknya Hubungan Prabowo vs Jokowi

image (72)

dok (ist)

JAKARTA — Keretakan hubungan antara Presiden Joko Widodo dan Presiden Terpilih Prabowo Subianto diprediksi akan bermula dari titik-titik benturan yang konkret (friction points). Di balik narasi “keberlanjutan” dan kekompakan yang ditampilkan ke publik, benturan kepentingan antar-elite diperkirakan bakal meletus begitu terjadi pergeseran kekuasaan secara penuh.

Sosiolog dan pengamat politik dari Nanyang Technological University (NTU) Singapura, Prof. Sulfikar Amir, membeberkan indikator dan potensi pemicu benturan tersebut dalam perbincangan yang dikutip dari kanal YouTube Abraham Samad Speak UP.

Menurut Prof. Sulfikar, aliansi politik yang terbangun saat ini bersifat pragmatis dan taktis (tactical alliance). Oleh karena itu, gesekan politik menjadi hal yang mustahil dihindari ketika kepentingan strategis kedua belah pihak mulai saling bertabrakan.

Tiga Momen Pemicu Utama Benturan Politik

Prof. Sulfikar Amir memeta-kan tiga momen krusial yang diyakini akan menjadi pemicu utama pecahnya konflik politik antara kubu Jokowi dan Prabowo:

1. Pembongkaran Kabinet & Pembersihan Loyalis

Langkah awal yang berpotensi memicu gesekan adalah ketika Prabowo mulai mengonsolidasikan kekuasaannya melalui penyusunan atau perombakan (shifting) kabinet. Jika Prabowo mulai memangkas kedudukan serta pengaruh loyalis-loyalis kunci Jokowi di kementerian dan lembaga strategis, hal ini akan ditangkap sebagai sinyal pengurangan porsi kekuasaan pendahulunya.

2. Perubahan Prioritas Anggaran & Proyek Legacy

Risiko benturan kian membesar pada aspek kebijakan fiskal dan alokasi APBN. Apabila program prioritas Prabowo—seperti Makan Bergizi Gratis—menyedot anggaran dalam jumlah sangat besar dan berimbas pada dipangkasnya pendanaan proyek-proyek warisan (legacy) Jokowi (seperti keberlanjutan pembangunan IKN atau hilirisasi), perselisihan visi politik dipastikan tidak terelakkan.

3. Marjinalisasi Posisi Gibran Rakabuming Raka

Titik paling sensitif berada pada masa depan dan pengaruh politik keluarga Jokowi. Jika peran Gibran Rakabuming Raka sebagai Wakil Presiden dinetralkan, dibatasi, atau sekadar dijadikan simbol tanpa wewenang eksekutif yang riil, Jokowi diperkirakan akan bereaksi keras demi mengamankan pilar politik keluarganya.

“Ketika Jokowi merasa pengaruhnya benar-benar digerus dan keamanan politik keluarganya terancam, ia tidak akan tinggal diam. Jokowi memiliki jaringan, basis relawan, serta pengaruh politik yang bisa digerakkan sebagai penyeimbang (counter-power). Di situlah kritikan, serangan balik, atau manuver politik terhadap pemerintahan Prabowo akan mulai muncul ke permukaan.”

— Prof. Sulfikar Amir (Dikutip dari kanal YouTube Abraham Samad Speak UP)

Prof. Sulfikar menyimpulkan bahwa gestur-gestur dingin atau pembatasan jarak yang terlihat di panggung publik saat ini hanyalah “riak kecil” dari arus bawah ketegangan politik yang jauh lebih besar di masa mendatang.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top