Jakarta — Aktivis Greenpeace Iqbal Damanik menyoroti bencana besar banjir bandang dan lonsor yang melanda Pulau Sumatera, khususnya Sumatera Utara, Sebagian Sumatera Barat dan Aceh sesungguhnya bukan sekadar fenomena alam saja melainkan akibat dari kegagalan kebijakan pemerintah dan praktik korporasi yang selama ini beroperasi dan merusak lingkungan. Iqbal bahkan menyebut sejumlah koorporasi besar dan Menteri yang harus bertanggungjawab atas kerusakan lingkungan yang memperparah tragedi tersebut
Demikian ditegaskan Iqbal saat tampil podcast di kanal Abraham Samad Speak Up, yang diunggah, mulai diunggah mulai Selasa, 2 Desember 2025 kemarin. Dalam wawancara tersebut yang dipandu langsung Dr. Abraham Samad, S.H., M.H., Ketua KPK Periode 2011-2015, Iqbal Damanik menjelaskan jauh hari sebelum terjadi bencana di Sumatera berbagai pihak ilmuan, pemerhati lingkungan sudah bersuara, mengingatkan para pihak untuk lebih berhati-hati dengan tidak merusak lingkungan karena daerah tersebut esensial. Hanya saja, himbauan, peringan tersebut tidak didengar bahkan diabaikan.
‘’Kita berduka iya Pak dengan bencana ini. Meskipun memang sebenarnya, banyak prediksi sebelumnya. Dan banyak sudah mengingatkan. Bahkan dari sepuluh tahun yang lalu sudah disampaikan, sudah diingatkan. Karena ini daerah esensial, tapi tidak didengar, diabaikan, ,’’ jelasnya menambahkan hal yang paling menyedihkan bagi aktivis lingkungan adalah ketika hal yang mereka sudah prediksi sebelumnya dan kemudian menjadi kebenaran.



keteg : suasana wawncara Iqbal dengan abraham samad. (foto speak up), dan gambar bencana milik foto Republika dan sindonews.com
Menurut Iqbal, tidak ada alasan bagi publik untuk bersikap diam dengan actor – actor perusak lingkungan tersebut. Bahkan Iqbal dengan tegas mendorong publik berani menyuarakan pentingnya para pelaku perusak lingkungan untuk diminta pertanggungjawaban. Bahkan bila perlu digugat di peradilan internasional.
‘’Tidak cukup mereka hanya sekedar minta maaf. Harus mundur dari Jabatannya, ‘’ ujar Iqbal menegaskan untuk mereka yang sekarang ini sedang dipercaya duduk dalam kabinet Prabowo.
Sementara itu bersadarkan data Pusdatin Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan bahwa hingga Selasa (2/12/2025) malam, total korban meninggal dunia sudah mencapai 744 jiwa, sementara 551 orang masih dinyatakan hilang atau belum ditemukan.




karna tidak ada hutan yang menompang ekosistem alam makanya banjir. salah siapa yaa kalo udah begini