Bayang-bayang ‘Kekalahan Terhormat’: AS Akan Ulangi Tragedi Afghanistan ?

whatsapp image 2026 03 30 at 09.49.07 (2)

JAKARTA – Eskalasi militer yang kian memanas antara poros Amerika Serikat-Israel melawan Iran kini memicu spekulasi mengenai titik nadir kekuatan Washington di Timur Tengah. Para pengamat mulai mencium aroma “skenario Afghanistan” jilid dua, di mana Pentagon diprediksi akan memilih opsi mundur demi menghindari kerugian ekonomi dan militer yang tak terperi.

Pengamat geopolitik Timur Tengah, Prof. Yon Mahmudi, menilai bahwa Amerika Serikat saat ini terjebak dalam dilema yang mematikan. Di satu sisi, tekanan domestik dan risiko kehancuran alutsista kian nyata; di sisi lain, Iran di bawah kendali figur “Panglima Perang” Mojtaba Khamenei menunjukkan ketahanan yang di luar kalkulasi Barat.

Mundur dengan ‘Topi Terangkat’

Prediksi mengenai mundurnya Amerika Serikat bukan didasari oleh penyerahan diri secara total, melainkan strategi exit yang dikemas secara heroik. Belajar dari pengalaman pahit di Afghanistan, Washington kemungkinan besar akan membangun narasi bahwa “misi telah selesai” untuk menutupi ketidakmampuan mereka menundukkan Teheran.

“Amerika mungkin akan menarik pasukannya dengan dalih perdamaian telah tercapai atau ancaman telah dinetralkan. Ini adalah cara mereka mundur dengan tetap menjaga martabat di mata dunia, meski secara faktual mereka gagal mengubah peta kekuatan di Iran,” ujar Prof. Yon dalam diskusi terbaru.

Dilema Indonesia di Pusaran BOP

Menanggapi posisi Indonesia dalam konstelasi ini, Prof. Yon mengeluarkan pernyataan tajam terkait keterlibatan Jakarta dalam Board of Peace (BOP). Ia menyarankan pemerintah untuk segera melakukan evaluasi total terhadap posisi Indonesia di badan tersebut.

Menurutnya, keberadaan Indonesia di BOP menjadi paradoks jika badan tersebut hanya menjadi instrumen yang “mengekor” pada agenda politik Amerika dan Israel.

“Jika BOP tidak lagi optimal dalam mengontrol agresi dan hanya membuat Indonesia berada di bawah bayang-bayang kepentingan sepihak, lebih baik kita mundur. Indonesia harus menjaga martabat dan independensi diplomasinya,” tegas Prof. Yon.

Ujian Kedaulatan Diplomasi

Sikap bungkam atau ketidaktegasan Indonesia dalam mengutuk agresi yang terjadi tanpa mandat PBB dinilai sebagai dampak psikologis dari posisi Indonesia di dalam BOP. Tekanan agar Indonesia tampil dengan dignity (harga diri) yang lebih kuat kini menjadi desakan utama bagi para pengambil kebijakan di Pejabat Luar Negeri.

Kini, bola panas ada di tangan Jakarta: tetap bertahan dalam retorika perdamaian semu yang disetir Washington, atau mengambil langkah berani untuk keluar dari zona nyaman demi kedaulatan politik luar negeri yang bebas aktif.

1 komentar untuk “Bayang-bayang ‘Kekalahan Terhormat’: AS Akan Ulangi Tragedi Afghanistan ?”

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top