JAKARTA – Di tengah kepulan asap konflik yang menyelimuti Teheran dan Washington, Indonesia secara resmi menawarkan diri sebagai jembatan perdamaian. Namun, langkah berani ini memicu diskursus mendalam mengenai esensi menjadi seorang mediator dalam konflik sekelas Perang Dunia III yang sedang mengintai.
Dr. Dinna Prapto Rahardjo memberikan catatan kritis namun fundamental bagi para pembuat kebijakan di Pejambon. Menurutnya, misi menjadi juru damai bukan tentang seberapa keras tepuk tangan yang didengar di dalam negeri, melainkan seberapa efektif pesan rahasia tersampaikan di meja perundingan yang tertutup.
Diplomasi Bukan Konten Media Sosial
“Pekerjaan juru damai itu seharusnya sunyi, bukan ramai dengan sorak-sorai,” tegas Dr. Dinna dalam analisisnya. Ia mengingatkan bahwa keberhasilan diplomasi di zona perang yang melibatkan kekuatan nuklir dan ego besar seperti Donald Trump memerlukan back-channel diplomacy atau jalur belakang yang sangat rahasia.
Sejarah mencatat bahwa perdamaian-perdamaian besar dunia jarang lahir dari konferensi pers yang megah di awal proses. Sebaliknya, ia lahir dari pertemuan-pertemuan tanpa kamera di tempat-tempat netral, di mana kepercayaan (trust) dibangun tanpa tekanan opini publik.
Risiko “Diplomasi Megafon”
Indonesia memiliki modalitas besar sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar dan anggota aktif non-blok. Namun, Dr. Dinna memperingatkan bahaya “diplomasi megafon”—di mana keinginan untuk terlihat berperan di mata konstituen domestik justru merusak netralitas dan kerahasiaan misi itu sendiri.
Jika Indonesia ingin benar-benar didengar oleh Teheran dan dihormati oleh Washington, maka langkah yang diambil haruslah:
- Tanpa Pamrih Publikasi: Fokus pada substansi konsesi yang bisa diterima kedua belah pihak.
- Ketangguhan Mental: Siap bekerja bertahun-tahun di balik layar tanpa diakui dunia hingga perdamaian benar-benar tercapai.
- Kredibilitas di Atas Popularitas: Memastikan bahwa Indonesia tidak dianggap sedang mencari panggung politik di tengah tragedi kemanusiaan.
Ujian Nyata Bagi RI
Menjadi juru damai di era Trump yang transaksional dan Iran yang penuh harga diri membutuhkan ketenangan seorang pemain catur, bukan kegaduhan seorang orator. Saat ini, dunia tidak butuh janji perdamaian yang diteriakkan di podium; dunia butuh hasil nyata yang dirajut dalam kesunyian ruang-ruang negosiasi.
Jika Jakarta mampu menahan diri dari godaan “tepuk tangan” prematur, Indonesia mungkin memiliki peluang emas untuk memadamkan api yang bisa menghanguskan tatanan global ini. Namun jika hanya sekadar retorika untuk konsumsi berita pagi, maka tawaran ini hanya akan menjadi catatan kaki yang terlupakan dalam sejarah konflik Timur Tengah.



