JAKARTA – Pengamat Hubungan Internasional, Pizaro Gozali Idrus, melayangkan kritik tajam terhadap arah kebijakan luar negeri pemerintah Indonesia di tengah eskalasi konflik Timur Tengah. Indonesia dinilai telah kehilangan marwah dan daya tawar (bargaining power) di panggung internasional karena terlalu fokus pada pragmatisme ekonomi, atau yang ia sebut sebagai diplomasi “memburu cuan”.
Dalam diskusi mendalam bersama Abraham Samad, Pizaro menekankan bahwa Indonesia saat ini tidak lagi dipandang sebagai pemain kunci di Timur Tengah, kalah jauh dibandingkan negara-negara seperti Tiongkok, Turki, bahkan Qatar.
Pragmatisme yang Menumpulkan Ideologi
Pizaro menyoroti bahwa di era pemerintahan saat ini, orientasi utama diplomasi Indonesia adalah menarik investasi, sehingga sering kali mengabaikan prinsip dasar Politik Bebas Aktif yang seharusnya berani mengutuk agresi secara lantang.
“Soekarno disegani dunia karena visi anti-imperialisme yang kuat. Beliau bisa mengumpulkan pemimpin Asia-Afrika dan Amerika Latin. Sekarang, kita hanya sibuk bicara investasi. Akibatnya, ketika terjadi agresi terhadap Iran atau genosida di Gaza, suara kita hanya sebatas ‘menyesalkan’, bukan ‘mengutuk’ secara keras sebagai bentuk pelanggaran hukum internasional,” tegas Pizaro.
Kontroversi Keanggotaan BOP
Kritik keras juga diarahkan pada langkah Indonesia yang memilih bergabung dalam Board of Governors (BOP), sebuah komite administratif untuk Gaza yang dianggap berafiliasi kuat dengan skenario Amerika Serikat di bawah Donald Trump.
Pizaro menilai langkah ini berisiko menjebak Indonesia dalam langgam politik Washington. “Kita harus waspada. Perjanjian dagang dengan AS sering kali mensyaratkan pengikutnya untuk mengikuti garis politik luar negeri mereka. Jika AS memboikot suatu negara, kita dipaksa ikut. Ini jelas mencederai independensi kita sebagai negara berdaulat,” lanjutnya.
Tertinggal dari Turki dan Qatar
Pizaro membandingkan posisi Indonesia dengan Turki dan Qatar yang memiliki posisi tawar sangat tinggi di mata Amerika Serikat dan Iran. Meskipun Qatar adalah negara kecil, mereka mampu menjadi mediator kunci karena memiliki kekuatan ekonomi dan prinsip yang jelas.
“Turki punya teknologi jet tempur generasi kelima dan drone canggih. Qatar punya pengaruh media dan energi. Kita punya potensi besar, tapi tanpa penguasaan teknologi dan keberanian ideologis, kita hanya akan menjadi penonton atau bahkan sekadar ‘pengikut’ kebijakan negara adidaya,” ungkapnya.
Tantangan Kepemimpinan Prabawo
Laporan ini juga menyoroti kekhawatiran masyarakat internasional terhadap pernyataan-pernyataan pemimpin Indonesia yang mulai menggunakan terminologi yang ambigu terkait kelompok perlawanan di Palestina. Pizaro mengingatkan agar pemerintah tetap konsisten mendukung hak kedaulatan bangsa-bangsa di Timur Tengah tanpa harus tunduk pada tekanan Barat.
“Jangan sampai TNI diterjunkan ke Gaza namun justru berada di bawah skenario yang merugikan entitas perjuangan rakyat setempat. Diplomasi kita harus kembali ke jati diri founding fathers kita: punya martabat, punya harga diri, dan berani berkata tidak pada ketidakadilan global,” pungkas Pizaro.
Kritik ini muncul di tengah kegelisahan publik mengenai posisi Indonesia yang dianggap semakin mendekat ke blok Barat demi kepentingan ekonomi, di saat eskalasi di Timur Tengah menuntut peran pemimpin dunia Islam yang lebih independen dan berani.




makin manas sih kayaknya iran vs amerika