JAKARTA –Presiden Prabowo seharusnya lebih responsif dan hati-hati menyikapi situasi ekonomi yang kian sulit belakangan ini. Pemerintah seharusnya tidak menghabiskan waktu terjebak dengan permainan angka-angka global. Situasi ekonomi dilaporkan seolah-olah baik dengan pertumbuhan 5 persen lebih sementara realitasnya di masyarakat semakin sulit. Ia mengingatkan sekarang ini telah terjadi fenomena berbahaya di tengah masyarakat yakni kondisi di mana warga terpaksa menggunakan dana cadangan atau “makan tabungan” (mantab) demi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Bahkan sudah semakin bergeser dengan makan utang (kredit).
Demikian disampaikan ekonom senior Yanuar Risky saat tampil dalam podcast di kanal You Tube Abraham Samad Speak UP, Kamis (29/1/2026) kemarin. Diskusi ini dipandu langsung Abraham Samad mantan Ketua KPK periode 2011-2015. Menurut Yanuar menjelaskan bahwa secara teoritis, tabungan seharusnya berfungsi sebagai instrumen perlindungan nilai. Namun, kenyataan pahit yang dihadapi masyarakat saat ini justru sebaliknya.
Yanuar dengan gaya bicara yang lugas menjelaskan selama ini pemerintah senang bermain dengan angka-angka yang besar melaporkan pertumbuhan ekonomi membaik dengan angka 5 persen lebih. Pada hal sesungguhnya dalam realitas masyarakat sedang mengalami kesulitan.
‘’Pemerintah selama ini sedangnya dengan angka-angka besar. Tidak melihat detilnya, angka riilnya. Padahal angka rillnya, itu masyarakat,’’ ujar Yanuar.
Yanuar memberi contoh pelaporan Badan Pusat Statistik (BPS) soal pengangguran berkurang. Menurut Yanua rada 18 juta masyarakat korban PHK yang selama ini mungkin balik di kampung berkativitas bekerja dengan keluarga tapi tidak digaji. Namun oleh BPS dilaporkan 18 juta tersebut tetap sebagai pekerja.
‘’Tapi ini mereka bekerja sudah tidak digaji. Bang itu 18 juta orang. Angkanya gede lho Bang. Bukan angka kecil,’’ ujar Yanuar.
‘’Nah menjawab pertanyaan Bang Abraham Samad tadi di mana tidak singkronnya antara angka pertumbuhan yang dilaporkan naik tapi kondisi masyarakat semakin sulit belanja. Jawabannya, pemerintah senangnya bermain-main di angka besarnya saja. Sementara angka detilnya (rill) tidak dibuka. Angka rill itulah kondisi masyarakat yang sesungguhnya.
Kegagalan Kompensasi Inflasi
Yanuar menyoroti pergeseran fungsi uang dari fungsi berjaga-jaga menjadi sekadar alat bertahan hidup. Beliau menekankan bahwa kenaikan inflasi yang tinggi tidak dibarengi dengan kompensasi yang layak bagi para penabung.
Menurut Yanuar mengutip pendekatan Keynes itu bahwa inflasi itu akan dikompensasi oleh kenaikan tabungan, bukan makan tabungan. Tapi orang punya tabungan diberikan kompensasi kenaikan bunganya, sehingga tidak makan tabungannya, tetap bunganya yang dimakan.
Kritik Terhadap Kebijakan Moneter
Yanuar juga mengkritik pandangan monetaris neoliberal yang terlalu mengandalkan utilisasi aset keuangan daripada penguatan daya beli riil. Menurutnya, pembiaran uang beredar di pasar keuangan tanpa peran negara yang kuat dalam menjaga keseimbangan hanya akan memperlebar ketimpangan.




kacau