JAKARTA – Pengamat ekonomi senior Yanuar Rizky memberikan pernyataan mengejutkan mengenai realitas ketenagakerjaan Indonesia yang berbanding terbalik dengan narasi pertumbuhan ekonomi makro. Saat tampil dalam podcast Abraham Samad Speak UP, Yanuar mengungkapkan betapa rapuhnya ekonomi sekarang ini. Terdapat sekitar 18 juta orang di Indonesia yang berstatus “bekerja”, namun faktanya mereka tidak menerima gaji atau upah.
Angka 18 juta ini, menurut Yanuar, merupakan pekerja keluarga yang membantu unit usaha keluarga yang tanpa diberi imbalan gaji. Dan umumnya adalah orang korban PHK di Kota kembali ke daerah.
Kondisi tersebut sesungguhnya menjadi alarm keras terhadap stabilitas konsumsi rumah tangga nasional yang saat ini tengah terimpit. ‘’ analoginya sederhana, satu petak sawah asumsinya dalam setahun menghasilkan Rp. 12 juta. Hasil ini dikelola dan dinikmati keluarga mereka di kampung. Misalnya untuk 2 orang. Sekarang akibat PHK ada tambahan beban dari keluarga membiayai yang korban PHK. Artinya, 12 juta tersebut yang semula hanya untuk dua orang harus dibagi untuk beberapa orang,’’ jelasnya.
Bekerja Tanpa Daya Beli
Yanuar menekankan bahwa definisi “bekerja” yang digunakan otoritas statistik seringkali mengaburkan realitas daya beli.
“Kita sering bicara angka pengangguran turun, tapi kita lupa ada 18 juta orang yang masuk kategori bekerja namun tidak dibayar. Mereka ini bekerja di sektor informal, membantu usaha keluarga karena lapangan kerja formal menyempit,” ujar Yanuar, menekankan angka 18 juta tersebut, bukan jumlah kecil.
Relevansinya terhadap kondisi ekonomi saat ini sangat fatal. Kelompok 18 juta orang ini secara statistik tidak menganggur, namun secara ekonomi mereka tidak memiliki pendapatan untuk dibelanjakan. Inilah yang menjelaskan mengapa pertumbuhan ekonomi yang diklaim di kisaran 5% tidak “menetes” ke bawah, karena motor penggeraknya bukan dari peningkatan upah pekerja.
lengkapnya tonton dalam link berikuy :




chaoos chaooos indonesiaa chaos
chaos parahh