Ekonomi RI Terancam ‘Osteoporosis’

whatsapp image 2026 01 29 at 14.49.50

JAKARTA – Pakar ekonomi senior, Yanuar Rizky, mengeluarkan peringatan keras mengenai kondisi fundamental ekonomi Indonesia yang kian mengkhawatirkan. Dalam diskusi mendalam di kanal YouTube Abraham Samad, Yanuar mengungkapkan bahwa masyarakat Indonesia saat ini sedang mengalami fenomena “Makan Tabungan” (dissaving) dan ketergantungan utang yang akut akibat anjloknya daya beli secara sistemik.

Yanuar menyebut ekonomi Indonesia saat ini layaknya mengalami “osteoporosis”—terlihat tegak di permukaan dengan angka pertumbuhan PDB 5%, namun keropos di dalam karena penopang utamanya, yakni konsumsi rumah tangga, terus melemah.

‘’Saya banyak di tanya di luar. Bro, pemerintah mengklaim ekonomi kita sudah membaik pertumbuhan 5 persen.  Saya Cuma balik tanya ke mereka.Apa yang anda rasakan sekarang.  Bagaimana kondisi (ekonom) sekarang. Jawaban itulah realitas sesungguhnya,’’ ujar Yanuar.

Yanuar menjelaskan pemerintah selama ini senangnya  bermain pada angka yang besar dan tidak memperhatikan yang detil. Pada hal yang detil itulah rill sesungguhnya di masyarakat.  Ia bahkan membongkar data  BPS dan hasil survei Kadin yang hanya menonjolkan angka 40 persen masyarakat mengaku puas dengan kondisi ekonomi sekarang.

‘’Bagaimana kalau logika analisisnya kita balik. Ada 60 persen warga selama ini merasa ekonominya sulit,’’ tambahnya.

Fenomena ‘Mantab’ dan Krisis Kelas Menengah

Yanuar menyoroti pergeseran motif penggunaan uang di tengah masyarakat. Dana yang seharusnya disimpan untuk kebutuhan masa depan atau berjaga-jaga (precautionary motive), kini terpaksa ditarik untuk menutupi defisit biaya hidup sehari-hari.

Rakyat bukan lagi menabung untuk masa depan, tapi mengambil masa depan (tabungan) untuk menyambung hidup hari ini. Fenomena ini, menurutnya, telah merambah ke kelas menengah yang kini mulai kesulitan mengimbangi laju inflasi pangan dan energi yang tidak sebanding dengan kenaikan pendapatan.

Jebakan Ekonomi Predator: Dari Bank ke Pinjol

Anjloknya daya beli ini diperparah dengan migrasi besar-besaran masyarakat ke instrumen utang non-bank. Yanuar menjelaskan bahwa kekakuan regulasi perbankan formal (standar Basel) membuat akses kredit bagi rakyat kecil semakin tertutup.

Kondisi ini menjadi ladang subur bagi “ekonomi predator” seperti Pinjaman Online (Pinjol) dan Paylater. “Karena butuh transaksi tapi uang tidak ada, rakyat lari ke pinjol. Ini adalah utang konsumtif, bukan produktif. Artinya, pendapatan rakyat di masa depan sudah tergadai hari ini hanya untuk membeli makan,” tegas Yanuar.

Yanuar juga mengingatkan  seringkali subsidi tidak kuat menahan laju penurunan daya beli masyarakat. Pemerintah sudah kesulitan atau kehilangan ruang fiskal untuk menolong rakyat karena uangnya habis untuk membayar bunga utang kepada pemilik modal besar atau oligarki.

Lengkapnya tonton link berikut :

1 komentar untuk “Ekonomi RI Terancam ‘Osteoporosis’”

Tinggalkan Balasan ke someone Batalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top