Anthony Budiawan—Managing Director PEPS (Political Economy and Policy Studies)
Bank Indonesia dan Pemerintah selalu mengklaim fundamental ekonomi Indonesia sangat kuat. Mereka mengatakan bahwa kurs rupiah seharusnya menguat karena saat ini terlalu murah—undervalued.
Mereka bahkan mengatakan rupiah bisa tembus di bawah Rp15.000, atau bahkan Rp12.000 per dolar AS. Jokowi pernah berilusi rupiah kembali ke bawah Rp10.000 per dolar AS.
Mereka merujuk cadangan devisa Indonesia yang relatif besar sebagai pendukung. Rupiah seharusnya mengapresiasi.
Tapi fakta berkata lain. Rupiah terus tergelincir, kini tembus Rp17.000 per dolar AS. Mengapa bisa begini? Ternyata, cadangan devisa kita menggelembung terus oleh utang luar negeri. Selama 2014-2025, cadangan devisa naik 44,6 miliar dolar AS (dari 111,9 miliar menjadi 156,5 miliar). Di sisi lain, utang luar negeri melonjak drastis: dari 292 miliar dolar AS (2014) menjadi 431,7 miliar (2025), naik 139,7 miliar dolar AS.
Utang luar negeri tersebut seharusnya memperkuat cadangan devisa. Tetapi, hanya 32% saja yang l masuk cadangan (44,6 miliar vs. 139,7 miliar). Sisanya “bocor” untuk menutupi berbagai defisit neraca, terutama defisit neraca pembayaran primer dengan akumulasi mencapai 397,9 miliar dolar AS.

Kondisi ini menjadi bukti fundamental ekonomi Indonesia cukup rapuh: Cadangan devisa terdiri dari utang luar negeri.
Aliran investasi asing langsung (FDI) sebesar 241,9 miliar dolar AS tampak besar, tetapi tidak membantu memperkuat fundamental ekonomi. Dalam jangka menengah-panjang, FDI ini malah bisa menjadi bumerang: defisit neraca pembayaran primer akan membengkak.
Tanpa reformasi struktural, gelembung utang luar negeri ini akan pecah. Rupiah bisa anjlok tajam, dan memicu krisis nilai tukar.
Konflik Iran yang berkepanjangan berpotensi menjadi pemicu capital outflow. Investor asing lari ke safe haven, rupiah tergelincir lebih dalam.
Seberapa dalam? Who knows…..



