JAKARTA – Di tengah eskalasi yang kian mendidih di Timur Tengah, sebuah pertanyaan besar terus membayangi: Bagaimana Iran, negara yang dikepung sanksi selama lebih dari empat dekade, mampu berdiri tegak menghadapi kekuatan militer Amerika Serikat dan Israel?
Pakar Timur Tengah dari Universitas Padjadjaran, Dr. Dina Sulaeman, membongkar “rahasia dapur” pertahanan Teheran dalam diskusi terbaru bertajuk Alumni IRAN Buka Rahasia Kehebatan IRAN sebagaimana dikutip di kanal YouTube Abraham Samad Speak UP yang diunggah Selasa 7 april 2026 kemarin. Menurutnya, kekuatan Iran tidak terletak pada kemewahan alutsista, melainkan pada prinsip kemandirian mutlak.
Kemandirian yang Dipaksa Sejarah
Dina menjelaskan bahwa doktrin pertahanan Iran lahir dari trauma sejarah Perang Irak-Iran pada dekade 80-an. Saat itu, dunia “menutup keran” senjata bagi Iran. Kondisi terjepit inilah yang memaksa Iran berhenti bermimpi membeli jet tempur Barat dan mulai membangun industri senjatanya sendiri.
“Iran itu unik karena mereka adalah satu-satunya negara di Timur Tengah yang berani secara terbuka menyatakan ‘Tidak’ pada hegemoni Amerika dan tetap bertahan meski dikepung sanksi selama 40 tahun lebih,” ujar Dina dalam video tersebut.
Strategi ‘Pertahanan di Garis Depan’
Bagi Iran, pertahanan terbaik adalah tidak membiarkan perang menyentuh tanah air mereka. Dina menyoroti strategi Forward Defense melalui aliansi Axis of Resistance. Dengan mendukung kelompok seperti Hezbollah di Lebanon atau Houthi di Yaman, Iran menciptakan sabuk pengaman yang sangat luas.
Ia menekankan bahwa senjata yang dikembangkan Iran sangat spesifik: drone dan rudal balistik. Ini adalah alat perang asimetris yang efisien secara biaya namun memiliki dampak psikologis luar biasa bagi lawan.
“Kekuatan Iran bukan sekadar jumlah tentara, tapi pada kemandirian teknologi militer. Mereka menciptakan drone yang efektif dengan biaya murah, yang sekarang bahkan ditakuti oleh kekuatan besar dunia,” tegasnya.
Ideologi Sebagai Perisai
Namun, Dina mengingatkan bahwa teknologi hanyalah alat. Kekuatan sejati Iran justru terletak pada “manusia” dan ideologinya. Ia menyebut adanya Culture of Resistance atau budaya perlawanan yang sudah mendarah daging di masyarakat Iran.
“Rahasia mereka bertahan adalah ‘Culture of Resistance’. Bagi mereka, tunduk pada tekanan internasional yang tidak adil itu jauh lebih menyakitkan daripada hidup di bawah sanksi ekonomi,” ungkap Dina.
Aktor Rasional, Bukan Radikal
Menutup ulasannya, Dina Sulaeman mengajak audiens untuk melihat Iran bukan sebagai aktor emosional yang gegabah, melainkan pemain catur yang sangat rasional. Setiap serangan balasan yang dilakukan Iran terhadap lawan-lawannya selalu terukur dan penuh kalkulasi diplomatik.
Doktrin ini mengirimkan pesan jelas ke Washington dan Tel Aviv: Iran tidak mencari perang, tapi mereka telah menyiapkan diri selama 40 tahun untuk menghadapinya.



