foto : jurnalistika.id
Jakarta – Memasuki tahun kedua pemerintahannya, Presiden Prabowo Subianto diprediksi akan menghadapi “badai sempurna” pada tahun 2026. Bukan sekadar tantangan administratif, 2026 dipandang sebagai tahun penentuan legitimasi di mana janji kampanye akan berbenturan keras dengan realitas di lapangan. Ancaman paling potensial bisa datang dari Kesehatan APBN yang mencekik serta ketidakpuasan generasi muda yang mulai mencapai titik didih. Anak muda mulai muak dengan praktik orang dalam (ordal) yang kian tak terkontrol.
Bom Waktu Fiskal: Rp803 Triliun dan Rakyat yang “Makan Utang”
Tahun 2026 adalah puncak dari beban utang jatuh tempo Indonesia yang mencapai angka fantastis, yakni sekitar Rp803,19 triliun. Angka ini merupakan bagian dari beban utang yang diwariskan Kepemimpinan Joko Widodo dan harus dilunasi di tengah ambisi Presiden sekarang Prabowo Subianto merealisasikan janji politiknya, menjalankan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Fenomena “Masyarakat Makan Utang” menjadi peringatan keras. Saat ini, daya beli masyarakat—terutama kelas menengah—sedang tergerus. Di bawah bayang-bayang inflasi pangan dan ketidakpastian lapangan kerja, banyak rumah tangga terpaksa bergantung pada instrumen utang (termasuk pinjol) hanya untuk menyambung hidup. Jika pemerintah gagal memberikan stimulus riil di tahun 2026, stabilitas sosial dipertaruhkan. Peringatan dini sebenarnya bisa dideteksi sejak tahun 2023 ketika masyarakat kelas bawah mulai terpapar dengan kegiatan pinjaman on line (pinjol). Begitupun tahun 2024 hingga tahun 2025 dengan masyarakat kelas menengah ditandai fenomena ‘’makan Tabungan’’ (mantap) dan terus berlanjut sekarang ini sudah bukan makan tabungan melainkan makan utang atau kredit.
Gen Z dan Gugatan Terhadap Rezim “Ordal”
Isu yang paling banyak dikritisi Gen Z sekarang ini selain lapangan kerja yang sangat terbatas juga melibatkan praktik ‘’Ordal’’ (Orang Dalam) yang sudah sangat vulgar. Mulai terjadi pergeseran psikologi di kalangan Gen Z yang dikenal ekspresif dan mulai menunjukkan kemuakan massal terhadap sistem “Ordal” (Orang Dalam) yang dianggap mematikan meritokrasi. Bahwa cukup banyak anak muda yang mulai mendapat posisi penting dalam pemerintahan atau dalam organ-organ tertentu dalam unit pemerintahan, namun setelah ditelusuri, rupanya mayoritas bukan karena kompetensi melainkan karena praktik ‘Ordal’’.
Prabowo tentu boleh berbanggam bahwa pemilu 2024 lalu, modal utama kemenangan mereka adalah karena dukungan mayoritas dari generasi muda. Namun tidak ada jaminan tahun 2026 ini akan berbalik. Sikap pemuda bisa saja dengan cepat berubah yang sekarang sudah apatis bahkan bergerak menjadi perlawanan. Gen Z bisa menjadi kritikus paling vokal di media sosial jika merasa masa depan mereka “dicuri” oleh elit yang hanya peduli pada lingkaran dalamnya sendiri.
Reshuffle: Ujian Nyali di Tengah Kabinet “Gemuk”
Reshuffle kabinet tentu bukan satu satunya solusi untuk memperbaiki semuanya termasuk kebutuhan memperbaiki daya beli masyarakat. Namun demikian, acap kali reshuffle seolah menjadi sumber energi baru membangun trust publik. Pertanyaan besarnya adalah: Beranikah Prabowo melakukan reshuffle kabinetnya dengan mengurangi karena terlalu gemuk sekaligus menggantikan orang – orang yang tidak kompoten.
“Tahun 2026 adalah titik di mana Prabowo harus memilih: menjaga perasaan partai koalisi atau menyelamatkan perut rakyat. Reshuffle bukan lagi opsi, melainkan keharusan untuk memangkas ‘lemak’ kabinet yang tidak produktif.”




sehat sehat negriku