Mantan Dubes Ungkap Selain Kekuatan Militer ‘Mentalitas Perlawanan’ Rakyat Iran Sangat Kuat

whatsapp image 2026 03 11 at 10.19.05 (1)

JAKARTA – Ketahanan Republik Islam Iran dalam menghadapi tekanan global ternyata tidak hanya bertumpu pada kekuatan rudal dan drone. Mantan Duta Besar Indonesia untuk Iran, Dian Wirengjurit, mengungkapkan bahwa “Ketahanan Sosial” dan nasionalisme tinggi rakyat Iran merupakan faktor kunci yang sering kali luput dari kalkulasi Barat.

Dalam bincang-bincang di kanal YouTube Abraham Samad SPEAK UP, Dian membedah bagaimana dinamika internal di Iran tidak serta-merta melunturkan kesetiaan warga terhadap kedaulatan negara mereka.

Memori Kolektif Perang Iran-Irak

Menurut Dian, salah satu fondasi utama ketangguhan sosial masyarakat Iran adalah “Budaya Perlawanan” yang lahir dari trauma sekaligus kebanggaan masa lalu. Rakyat Iran memiliki memori kolektif yang sangat kuat tentang Perang Iran-Irak (1980-1988), sebuah masa sulit yang membentuk mentalitas siap menderita demi bangsa.

“Generasi Iran tumbuh dengan kesadaran bahwa kedaulatan itu mahal harganya. Mereka pernah melewati masa-masa perang yang sangat berat, dan itu membentuk karakter rakyat yang tidak mudah menyerah meski berada di bawah tekanan ekonomi atau ancaman luar,” ujar Dian.

Anti-Imperialisme sebagai Identitas Nasional

Lebih lanjut, Dian menjelaskan bahwa sentimen anti-imperialisme—khususnya terhadap Amerika Serikat dan Israel—di Iran bukanlah sekadar instruksi politik dari pemerintah. Hal tersebut telah meresap menjadi bagian dari identitas nasional untuk menolak segala bentuk dominasi asing di tanah mereka.

“Perlawanan terhadap dominasi asing dianggap sebagai kewajiban moral dan bagian dari harga diri bangsa. Bagi masyarakat Iran, ini bukan lagi soal setuju atau tidak dengan kebijakan politik tertentu, tapi soal menjaga martabat tanah air dari campur tangan luar,” tegas mantan diplomat yang lama menetap di Teheran tersebut.

Dinamika Internal vs Kedaulatan

Meski mengakui adanya dinamika sosial dan perbedaan pendapat di dalam negeri Iran, Dian mengamati bahwa ketika menghadapi ancaman eksternal, rakyat Iran cenderung bersatu. Nasionalisme yang berakar pada sejarah panjang peradaban Persia membuat mereka memiliki daya tahan (resilience) yang luar biasa.

Analisis ini memberikan perspektif bahwa upaya melemahkan Iran melalui sanksi ekonomi sering kali justru memperkuat solidaritas domestik, karena rakyat melihat tekanan tersebut sebagai bentuk penindasan asing yang harus dilawan bersama.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top