Jakarta,– Marco Kusumawijaya menegaskan pekerjaan terberat yang sedang dihadapi sekarang ini selain tentu focus dengan masa tanggap darurat upaya penyelamatan korban atas bencana, juga yang tak kalah penting dan tidak bisa ditunda adalah aksi ‘’pengembalian hutan’’.. Demikian diungkapkan Marco saat tampil dalam podcast kanal You Tube Abraham Samad Speak yang diunggah Selasa, 16/12/2025 kemarin.
“Kalau kita tidak memperbaiki hutannya, Dan kita cuma memperbaiki jembatan…, maka (semoga ini tidak terjadi), tapi tahun depan — atau entah kapan, bencana akan terjadi lagi,’’ ancam Marco mengaku penjelasan tersebut berdasarkan analisis ilmu pengetahuan.
Marco menjelaskan sumber utama bencana adalah akibat langsung dari kerusakan lingkungan yang masif, penggundulan hutan (deforestasi) yang dilakukan secara masif, baik oleh pembalakan liar maupun—yang lebih berbahaya—korporasi yang beroperasi secara legal. Ekspansi perkebunan kelapa sawit di lereng-lereng curam dan pertambangan ilegal dinilai telah menghilangkan daya serap alam terhadap siklon tropis dan curah hujan ekstrem.
‘’Oleh karenanya, itu yang saya sebut tadi membutuhkan ‘nyali’ besar Presiden untuk melakukan perbaikan. Mengembalikan hutan,’’ jelasnya.
Marco secara keras menolak wacana pemerintah yang cenderung menyalahkan masyarakat atas “pembalakan liar.” Ia menuding hal ini sebagai propaganda untuk mengalihkan tanggung jawab dari pemain besar:
“Penebangan liar yang dilakukan masyarakat itu alatnya cuma gergaji kecil-kecil… Kalau Anda lihat bagaimana kayu-kayu gelondongan yang hanyut, itu adalah pembalakan yang dilakukan korporasi,” ujarnya, menuntut agar pemerintah menindak dan mengatur ulang izin-izin industri kehutanan dan perkebunan yang legal sekalipun.
Marco Kusumawijaya memperingatkan bahwa tanpa langkah perbaikan lingkungan yang fundamental—yang membutuhkan keberanian politik untuk melawan kepentingan korporasi—bencana serupa sangat mungkin terulang di masa depan karena dampak perubahan iklim yang makin nyata.




setuju buat reboisasi di hutan sumatera