Marsma (Purn) Agung Peringatkan ‘Rawa Berdarah’ Jika Perang Darat Iran-AS Pecah

whatsapp image 2026 03 31 at 17.45.53 (2)

TEHERAN / WASHINGTON – Ketegangan di kawasan Teluk telah mencapai titik didih tertinggi dalam satu dekade terakhir. Menanggapi eskalasi yang kian memanas, mantan penerbang tempur sekaligus pengamat militer senior, Marsma (Purn) TNI Agung Sasongkojati, memberikan analisis tajam mengenai konsekuensi jika genderang perang darat benar-benar ditabuh antara Iran dan Amerika Serikat.

Ancaman “4 Juta Pasukan” Bukan Sekadar Gertakan

Dalam diskusi yang dikutip melalui kanal YouTube Abrham Samad Speak UP bertajuk  

“Perang Darat Dimulai? 4 Juta Pasukan Iran Siap Menghabisi tentara Amerika ”, Marsekal Agung menyoroti mobilisasi masif yang diklaim Iran. Angka 4 juta personel—gabungan dari militer reguler, IRGC, dan milisi —dinilai sebagai pesan politik yang sangat serius.

“Bagi kami yang terbiasa melihat medan dari kokpit jet tempur, angka itu adalah sinyal deterrence (penggetar). Iran sedang membangun benteng manusia,” ujar Agung. “Mereka tahu tidak bisa menang melawan AS dalam duel udara murni, maka mereka menyiapkan skenario di mana teknologi tercanggih sekalipun akan kesulitan menghadapi gerilya kota dan medan pegunungan yang ekstrem.”

Doktrin “Pertahanan Mosaik” dan Perang Asimetris

Marsekal Agung menegaskan bahwa AS tidak akan menghadapi tentara konvensional yang berbaris rapi. Sebaliknya, Iran diprediksi akan mengaktifkan Pertahanan Mosaik, sebuah strategi desentralisasi di mana setiap unit kecil militer memiliki otonomi untuk menyerang tanpa menunggu perintah pusat jika jalur komunikasi diputus.

“Iran akan menggunakan strategi saturation attack—serangan jenuh menggunakan ribuan drone dan rudal balistik secara simultan untuk menembus pertahanan udara AS. Ini adalah taktik asimetris untuk menyeimbangkan ketertinggalan teknologi,” tambahnya.

Selat Hormuz: Kartu As yang Mematikan

Lebih lanjut, analisis sang purnawirawan bintang empat ini menyoroti aspek ekonomi sebagai senjata. Pemblokiran Selat Hormuz oleh Iran bisa menjadi ‘kiamat logistik’ bagi dunia. “Ini bukan hanya soal siapa yang punya peluru lebih banyak, tapi siapa yang bisa bertahan saat jalur pasokan energi dunia terputus. Itu adalah kartu as Iran yang membuat Washington berpikir sepuluh kali untuk melakukan invasi darat.”

Dilema Washington: Kelelahan Perang

Dari sisi Pentagon, Marsekal Agung melihat adanya keraguan strategis. Meskipun memiliki keunggulan teknologi seperti jet tempur F-35, AS saat ini dihantui oleh “kelelahan perang” pasca-Irak dan Afghanistan.

“Superioritas udara memang bisa menghancurkan infrastruktur, tapi penentu kemenangan akhir tetap berada di kaki prajurit di daratan. Dan saat ini, publik AS tidak memiliki selera untuk terlibat dalam konflik panjang yang berdarah,” tegasnya menutup analisis.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top