JAKARTA – Di tengah bayang-bayang konflik terbuka, kapabilitas militer Iran kini menjadi teka-teki besar bagi Pentagon dan sekutunya. Pengamat militer dari CIDE, Anton Aliabbas, menyoroti bahwa Iran bukan lagi sekadar kekuatan regional biasa, melainkan entitas militer dengan tingkat resiliensi dan kecanggihan intelijen yang sering kali diremehkan oleh Barat.
Kegagalan Deterensi: Jebolnya Pertahanan Lawan
Salah satu poin krusial yang digarisbawahi oleh Anton adalah kemampuan rudal Iran dalam menembus sistem pertahanan udara yang selama ini dianggap tak tertembus.
“Serangan yang mampu menjangkau titik-titik strategis menunjukkan bahwa Iran memiliki data intelijen yang sangat presisi mengenai celah sistem pertahanan lawan,” ujar Anton. Menurutnya, ini adalah bukti nyata kegagalan strategi pencegahan (deterrence) yang dibangun AS dan Israel di kawasan tersebut.
Pengintaian Berkedok Operasi Rutin
Anton mencermati adanya pola pergerakan kapal perang Amerika Serikat yang semakin intensif di perbatasan perairan Iran. Namun, ia menilai kehadiran aset militer AS tersebut lebih bersifat pengintaian aktif daripada persiapan serangan mendadak.
- Pemetaan Kekuatan: AS diyakini tengah berusaha memetakan koordinat baterai rudal pesisir dan pangkalan bawah tanah Iran yang tersebar di sepanjang pesisir.
- Uji Respons: Pergerakan tersebut juga berfungsi untuk memicu respons radar Iran guna mengukur kecepatan reaksi dan frekuensi komunikasi militer Teheran.
Ketahanan Simetris dan Kemandirian Industri Pertahanan
Berbeda dengan banyak negara di Timur Tengah yang bergantung pada impor senjata, Anton menekankan bahwa kekuatan utama Iran terletak pada kemandirian industri pertahanannya.
“Selama bertahun-tahun di bawah sanksi, Iran justru berhasil mengembangkan teknologi rudal balistik, drone kamikaze, hingga kemampuan perang siber yang mumpuni. Ini membuat mereka memiliki nafas yang lebih panjang dalam skenario perang atrisi (kelelahan),” tambah Anton.
Intelijen Manusia dan Jaringan Regional
Selain teknologi, Anton melihat keunggulan Iran terletak pada jaringan intelijen manusia (HUMINT) yang luas di seluruh Timur Tengah. Melalui aliansi strategis di berbagai negara, Iran mampu menciptakan lapisan pertahanan luar yang membuat setiap upaya serangan langsung ke daratan Iran akan memicu efek domino yang destruktif bagi kepentingan AS di seluruh kawasan.
Kesimpulan: Bagi Anton Aliabbas, meremehkan kapabilitas militer Iran adalah kesalahan strategis. Dengan kombinasi intelijen yang tajam dan teknologi pertahanan yang kian kokoh, Iran telah memposisikan dirinya sebagai “benteng” yang sangat mahal untuk diserbu secara konvensional.



