Analis hubungan internasional Prof. Hikmahanto Juwana mengungkap fakta pahit Indonesia bergabung dalam Board Of Peace (BoP). Ia mengibaratkan Indonesia sekarang ini sedang berada di persimpangan jalan yang berbahaya. Antara ambisi menjadi juru damai dan kenyataan menjadi “alat” kepentingan global. Terutama dalam kepentingan Presiden Amerika Donald Trump.
Berikut adalah poin-poin krusial yang perlu disoroti:
1. BoP: Jebakan Batman bagi Kedaulatan RI
Prof. Hikmahanto secara eksplisit menyebut Board of Peace (BoP) bukanlah panggung diplomasi, melainkan instrumen politik Donald Trump.
- Struktur Feodal: Menempatkan Trump sebagai Chairman di atas kepala negara lain adalah penghinaan terhadap martabat kepresidenan. Indonesia bukan “anak didik” Amerika.
- Legitimasi Penjajahan: Keberadaan kita di BoP justru berisiko melanggengkan pendudukan Israel di Gaza. Keluar dari BoP bukan sekadar pilihan, tapi keharusan moral sesuai mandat UUD 1945.
- Pasukan “Nabok Nyilih Tangan”: Rencana pengiriman 8.000 personel TNI ke Gaza di bawah ISF dikritik keras. Kita jangan mau dijadikan “tameng” atau tukang pukul untuk kepentingan Israel dengan dalih stabilisasi.
2. Diplomasi “Gamang” di Tengah Perang Iran
Sikap membisu Indonesia atas serangan Amerika-Israel ke Iran menunjukkan diplomasi yang sedang tersandera.
- Mediator Tanpa Taring: Keinginan menjadi mediator hanya akan jadi pepesan kosong jika Indonesia tidak berani menyebut Israel sebagai agresor. Iran tidak butuh mediator yang “cari aman”.
- Logika “Lemong”: Trump menganggap dunia adalah miliknya (The world is me). Kebijakan luar negeri kita jangan sampai terjebak dalam dikte tarif dan intimidasi ekonomi yang merugikan kedaulatan.
3. Alarm “Venezuelanisasi” Indonesia
Indonesia sedang diuji: apakah kita akan tetap berdaulat atau tunduk pada tekanan ekonomi AS (seperti kasus tarif 32% dan perjanjian dagang ART).
- Perjanjian yang Menjerat: Dari isu sertifikasi halal hingga paksaan membeli pesawat Boeing, Indonesia terlihat lebih banyak memikul kewajiban daripada menerima manfaat.
- DPR Harus Pasang Badan: Prof. Hikmahanto mendesak DPR RI untuk tidak meratifikasi perjanjian yang merugikan nasional. Ini adalah satu-satunya rem darurat untuk menyelamatkan harga diri bangsa.
Catatan Penutup
Meremehkan kekuatan ideologi Iran adalah kecerobohan sejarah, namun mengorbankan prinsip politik Bebas-Aktif demi menyenangkan Trump adalah bunuh diri diplomasi. Sudah saatnya Indonesia berhenti menjadi “Good Boy” bagi Amerika dan kembali menjadi pemimpin yang disegani di kawasan.




board of peace ga ada damai damainya bang yang ada kekacauan dulu baru damai