Lukas Luwarso (Jurnalis Senior)
Mahkamah Agung (MA) Amerika Serikat membatalkan kebijakan tarif resiprokal Presiden Donald Trump, yang diterapkan ke banyak negara–termasuk untuk Indonesia–pada 20 Februari 2026. Kebijakan tarif sepihak ala Trump ini dinilai melanggar konstitusi AS. Menurut MA, Presiden Trump tidak memiliki wewenang inheren untuk memberlakukan tarif besar-besaran pada negara manapun.
Putusan MA Amerika itu dikeluarkan sehari setelah Penandatanganan Agreement on Reciprocal Trade (ART) antara Indonesia dan Amerika, pada 19 Februari 2026 di Washington, D.C. Artinya, kesepakatan yang ditandatangani Presiden Prabowo dan Trump, yang merugikan dan merongrong kedaulatan Indonesia, kemungkinan batal. Di hari yang sama, Prabowo juga menghadiri pertemuan perdana Board Of Peace (BOP).
Mem-bully melalui ART dan BOP. Pengenaan tarif perdagangan (ART), juga penggunaan kedigdayaan militer, dipakai Trump untuk menekan dan menggertak (mem-bully) negara lain. Termasuk dalam merekrut keanggotaan BOP. Presiden Prabowo terperangkap dalam gertakan Trump, hingga bersedia menandatangani ART dan ikut BOP. Langkah yang dianggap telah mengabaikan prinsip Indonesia sebagai bangsa yang merdeka dan berdaulat.
Hasil negosiasi dengan Trump tidak menunjukkan Prabowo memiliki nilai tawar. Selain dikenai tetap tarif 19%, Indonesia masih harus memenuhi berbagai konsesi yang diminta Trump. Kesepakatan yang jelas-jelas tidak seimbang, problematik, dan merugikan Indonesia.
Relasi problematik, tidak ada kesetaraan, berbasis-bully, antara Donald Trump dan Prabowo, sangat nyata di BOP. Indonesia merasa perlu bergabung ke BOP sekedar untuk mengantisipasi agar Prabowo tidak di-bully oleh Trump — setelah di-bully melalui tarif perdagangan. BOP diinisiasi Donald Trump untuk mem-bully Perserikatan Bangsa-Bangsa, lembaga multilateral resmi yang diakui dunia.
Trump, sukses mem-bully 21 negara–yang pemimpinnya takut di-bully–untuk bergabung di BOP. Negara besar dan berkarakter, seperti China, Rusia, Prancis, Inggris, Jerman, Jepang, dan sebagian besar anggota NATO/G7 menolak bergabung. Dari 11 negara ASEAN, cuma Indonesia yang ikut BOP, bersedia menuruti ambisi Trump untuk menghegemoni tatanan politik global secara unilateral, bahkan personal.
Trump menjadikan BOP sebagai lembaga mainannya. Ia menetapkan diri sebagai ketua seumur hidup dan satu-satunya yang memiliki hak veto. Ia menjual kursi keanggotaan BOP seharga $1 miliar. Dengan karakteristik organisasi dan kepemimpinan Trump yang begitu aneh, agak mengherankan Indonesia mau bergabung menjadi anggota BOP.
Tidak ada alasan logis yang bisa menjelaskan atau membenarkan Indonesia, sebagai negara bebas-aktif, perlu menjadi anggota BOP. Selain, mungkin, untuk mengamankan Prabowo agar tidak di-bully atau menjadi sasaran perundungan Trump (seperti nasib presiden Venezuela, Nicolás Maduro, misalnya). Demi “proteksi” dan menghindari bully Trump ini, Indonesia perlu gabung BOP, dengan membayar iuran 17 triliun rupiah.
Ironi slogan anti-antek-asing. Sangat ironis melihat politikus yang saat kampanye Pilpres menyuarakan kemandirian bangsa, mengecam ketergantungan pada asing, dan meneriakkan ketidaksukaan pada “antek-antek asing”. Kini setelah menjadi presiden, Prabowo justru tunduk-terpuruk dalam kepentingan asing (Donald Trump-Netanyahu). Relasi transaksional berbasis-bully yang mahal. Dan, toh, ternyata tetap di-bully juga.
Trump dalam rapat perdana BOP memuji Prabowo setinggi langit, menggunakan gaya bahasa superlatif. Dengan senyum menyeringai (smirk) Trump menilai Prabowo sebagai pemimpin “tangguh” yang membuatnya enggan (ngeri) untuk “berhadap-hadapan”. Satu pujian palsu, lebay, kata GenZ.
Bukan cuma enggan berhadapan, Trump faktanya juga ogah berdampingan dengan Prabowo. Saat acara foto bersama para pemimpin negara anggota BOP, Prabowo ditaruh di ujung paling pinggir barisan para pemimpin negara. Presiden RI, negara terbesar keempat di dunia, dianggap hampir non-eksisten oleh Trump. Dalam protokoler diplomatik, kelaziman acara foto bersama kepala negara, pemimpin negara penting ditempatkan di tengah, di samping tuan rumah. Menaruh Prabowo di posisi paling pinggir, adalah satu pelecehan yang kurang ajar. Indonesia dianggap kurang penting oleh Donald Trump.
Namun, Prabowo sepertinya tidak peduli, atau tidak memahami, nuansa sinyal protokoler diplomatik itu. Menerima “pujian” senyum seringai Trump, dianggap sudah cukup memadai. Nalar sehat mustinya mewaspadai, pujian tukang bully biasanya cuma sarkasme. Yang jelas saat di Washington DC, usai menghadiri rapat BOP dan menandatangani kesepakatan ART dengan Trump, Prabowo justru menyatakan “ingin melihat kehadiran Amerika yang kuat di Indonesia”.
Bulan madu telah berlalu. Prabowo selama lebih dari setahun sebagai presiden sangat sibuk menghadiri berbagai forum internasional. Hampir tiap bulan jalan-jalan ke luar negeri. Sementara di dalam negeri, ia semakin menjadi bulan-bulanan kritisisme publik. “Bulan madu” publik dengan Prabowo, sebagai presiden baru, terlalu cepat berlalu.
Prabowo agaknya telah lupa dengan buku yang ditulisnya, saat berkampanye ingin jadi presiden: “Paradoks Indonesia”. Ia perlu lebih fokus berada di Indonesia untuk berkonsentrasi mengawasi dan mengevaluasi kinerja para pembantunya. Indonesia sedang sakit parah, ia tahu diagnosa dan resep untuk mengobati. Tinggal keseriusan untuk menjalankan pengobatan, jika ingin konsisten dengan tema kampanye dalam buku yang pernah ia tulis.
Termasuk omon-omonnya yang kerap mempersoalkan antek-antek asing. Jika memang serius “anti antek asing”, setidaknya coba tunjukkan dengan contoh, untuk menolak menjadi antek Donald Trump — si tukang bully yang sedang menghitung hari.
Kemuakan rakyat Amerika pada Donald Trump akan disuarakan pada Midterm Election, awal November 2026. Kemungkinan besar ia akan diimpeach, dimakzulkan, dan kemudian diadili untuk berbagai kekacauan politik yang ia buat, termasuk skandal Epstein File. Keputusan MA Amerika membatalkan tarif resiprokal-nya adalah indikasi.
Tidak semestinya Presiden RI menjalin relasi problematik, relasi-bully, dengan Donald Trump. Dengan menuruti, mematuhi, atau khawatir di-bully. Sejarah kelam Trump sudah tertulis, ia tercatat sebagai salah satu presiden AS terburuk. Sosok ego-maniac yang tidak sepatutnya diikuti.



