JAKARTA – Pengamat intelijen dan keamanan, Ridlwan Habib, memberikan catatan kritis terhadap kondisi sosiopolitik di Amerika Serikat saat ini. Dalam analisisnya, Ridlwan menyoroti fenomena memprihatinkan di mana masyarakat yang bermukim di negara yang dianggap sebagai “kiblat demokrasi” justru terjebak dalam arus informasi satu arah yang destruktif.
Dominasi Narasi ‘Buzzer’ dan Matinya Objektivitas
Ridlwan mengungkapkan bahwa sebagian besar warga AS kini hanya mendapatkan asupan narasi dari kelompok yang ia sebut sebagai “buzzer Trump”. Narasi-narasi ini didesain sedemikian rupa untuk menciptakan realitas alternatif yang jauh dari fakta lapangan.
“Masyarakat Amerika saat ini cenderung memilih berita yang hanya memenuhi kepuasan batin mereka. Mereka terjebak dalam echo chamber (ruang gema) yang dibangun oleh buzzer-buzzer politik. Seolah-olah Trump selalu menang, seolah-olah kebijakan mereka selalu benar,” ujar Ridlwan Habib dengan nada prihatin.
Ironi Demokrasi: Fakta Kemanusiaan yang Terabaikan
Ridlwan menyatakan kesedihannya melihat bagaimana nilai-nilai demokrasi yang menjunjung tinggi kebenaran dan transparansi justru luntur. Publik Amerika, menurutnya, mulai kehilangan empati terhadap tragedi kemanusiaan di belahan dunia lain karena filter informasi yang sangat bias.
“Ini adalah tragedi demokrasi. Warga di sana tidak lagi peduli pada berita pengeboman sekolah atau ratusan anak-anak yang meninggal akibat serangan militer di Timur Tengah. Fakta-fakta memilukan itu tertutup oleh narasi politik yang memanjakan ego mereka sendiri. Mereka hanya ingin mendengar apa yang ingin mereka dengar,” tegas Ridlwan.
Dampaknya Terhadap Kebijakan Luar Negeri
Menurut Ridlwan, pengabaian terhadap fakta kemanusiaan ini memberikan “cek kosong” bagi pemerintah dan militer AS untuk terus mendukung langkah-langkah agresif Israel tanpa adanya kontrol sosial yang kuat dari rakyatnya sendiri. Ketika publik domestik disuguhi narasi kemenangan dan kejayaan sepihak, penderitaan warga sipil di Gaza atau Lebanon dianggap tidak ada atau sekadar “kerusakan sampingan” yang tidak layak dipedulikan.
Ridlwan Habib memperingatkan bahwa jika masyarakat Amerika tidak segera keluar dari gelembung narasi buzzer tersebut, maka demokrasi mereka hanya akan menjadi alat untuk melegitimasi kekejian internasional atas nama pemuasan keinginan kelompok tertentu.



