Ini Pandangan Anak Muda Terhadap Gelar Pahlawan Soeharto dan Sikap Pigai No Coment

copilot 20251115 164921

Jakarta –Gelar pahlawan oleh mantan Presiden Soeharto masih terus  menjadi polemik di masyarakat. Mayoritas publik bahkan mengkritisi kata pahlawan yang sudah mulai kehilangan makna > Diobral bisa disandang oleh siapa saja meski punya catatan hitam.  Dan lebih aneh sikap Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Natalius Pigai   yang tiba- tiba  no coment, seolah  memperlihatkan ketakutan akan dicopot bila  bersikap tidak setuju gelar pahlawan kepada Soeharto.

Demikian mengemuka dalam obran ringan membahas polemik gelar parlawan Soeharto di kanal ASANESIA TV yang dipandu Melki sebagai host  bersama Haikal Mantan Ketua BEM UNPAD dan Ikbal Mantan Ketua BEM UMY yang sekarang jadi peneliti di Perludem.

Sesi awal, Melki  membuka  forum  memancing rekannya untuk berpendapat soal Soeharto dan  Gerakan reformasi.

 “Kalau kita bicara Soeharto, jelas ada dua sisi. Di satu sisi, beliau dianggap berjasa membangun infrastruktur, stabilitas politik, dan ekonomi. Tapi di sisi lain, ada catatan pelanggaran HAM, korupsi, dan represi politik. Jadi, apakah pantas diberi gelar pahlawan?”  Tanya Melki.  Dan  menarik dibalik polemik tersebut, mereka bertiga juga menyoroti Natalius Pigai yang seolah takut berkomentar apalagi bersikap soal gelar pahlawan Soeharto.

Pigai  selama ini memang menjadi salah satu Menteri yang paling disorot karena dianggap kinerjanya buruk.  Dalam pemberian penghargaan Soeharto, public  sempat berharap Pigai akan punya sikap tegas melihat rekam jejaknya selama ini cukup konsen dalam  isu perlindungan HAM. Pigai sebelum diangkat Prabowo jadi Menteri juga pernah menjadi anggota Komnas HAM periode 2012 – 2017.  Sayangnya  saat wartawan mengejarnya untuk bersuara  malah  no comment. Tidak memperlihatkan sikap keberpihakan yang jelas. 

‘’Mungkin Bang Pigai menjaga jabatannya yang sekian lama sangat diharap,’’ celutup Melki  dan disambut ikbal  yang menyindir Pigai dengan bahasa sarkasme.  Bahkan Ikabl menyindir Pigai cocok berpaket Jokowi yang selama ini di depan public juga terkadang menghindari pertanyaan wartawan dengan jawaban singkat, kok tanya saya? Atau dengan Gibran, nanti saya iya?

 Aneh Marsinah dan Soeharto Disandingkan

Selain mengkritik sikap Menteri HAM Pigai,  baik Melki, Haikal dan Ikbal juga  sepakat mengkritisi pemberian gelar pahlawan terhadap Soeharto.  Mereka memahami  pandangan beberapa pihak yang sepakat bahwa Soeharto punya jasa. Hanya saja, tetap tidak bisa dihilangkan dengan berbagai peristiwa kelam selama berkuasa. Praktik KKN pelanggaran HAM dan sebagainya.   Bahkan mereka curiga pemberian gelar tersebut sekaligus  bertujuan menghapus  jejak kejahatan Soeharto selama ini. Termasuk menutup ruang kritik dari public.

 “Pertanyaannya: seberapa penting gelar pahlawan nasional? Apakah sekadar simbol politik, atau benar-benar penghargaan moral? Ikat Haikal dengan nada tanya, yang dijawab Melki  seharusnya gelar Pahlawan  hanya bisa  diberikan kepada sosok yang tanpa cacat besar dalam sejarah bangsa.

‘’ Ini yang paling lucu. Mungkin cuma ada di Indonesia. Satu-satunya negara yang aneh ngitu iya. Yang kemudian  menjadikan seorang pahlawan  si  korban dan pelaku di waktu yang sama, di hari yang sama,’’ ujarnya memberi contoh  sosok Marsina seorang Perempuan pejuang buruh yang harus korban  meninggal dunia karena memperjuangkan hak-haknya sebagai buruh. Tapi di saat yang sama, Soeharto rezim penguasa penguasa saat itu justru hari ini juga diberi gelar pahlawan bersama Marsina.

’Kalau saya jadi Marsina, mungkin goindok juga kalau fotonya ditaruh sederetan dengan Soeharto. Kemarin gue  demo lhu susah-susah,  sampai gue mati. Sekarang kok figura kita dipajang bareng  satu deretan,’’ ujar Ikbal seolah menirukan keberatan jerita hati Marsina

Melki  menutup  diskusi  dan mengajak publik berhak mempertanyakan, apakah gelar pahlawan nasional masih relevan jika diberikan kepada tokoh yang kontroversial. Mari kita terus kritis, karena sejarah bukan sekadar romantisme, tapi juga soal keadilan.”

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top