sumber validnews.id
JAKARTA— Sejumlah kalangan mendesak Presiden untuk segera mengambil langkah tegas melakukan evaluasi menyeluruh terhadap tata Kelola pengelolaan program Makanan Gratis Bergizi (MBG) untuk menghindari bertambahnya jumlah anak yang menderita korban keracunan di sekolah. Pemerintah harus bertanggungjawab menjaga dan menjamin keselamatan anak, termasuk potensi terjadi trauma berkepanjangan dan ketidakpercayaan terhadap program pemerintah.
Berdasarkan data yang diolah tim ASA Indonesia menemukan hingga 23 september 2025, jumlah anak yang sempat menderita keracunan sudah mencapai lebih dari 5.000 siswa. Angka ini tersebar di seluruh Indonesia dan di Jawa Barat. Sementara data Kementerian Kesehatan untuk pertanggal 16 september 2025 mencatat ada 60 kasus yang terjadi di lapangan. Sementara korban penderita keracunan 5.207 siswa . Begitupun dengan BPOM mencatat ada 55 kasus dengan korban keracunan 5.320 penderita. Sementara JPPI mencatat jumlah korban sudah melebihi 6000 siswa.

Sumber Kompas.id
‘’Meski ini tidak ditetapkan status darurat atau kejadian luar biasa. Menjadi penting dan sifatnya harus segera Pemerintah bergerak dan bertindak cepat, melakukan evaluasi menyeluruh, memastikan menjamin keselamatan anak. Semua dasarnya adalah keselamatan anak,’’ demikian dalam pernyataan ASA Indonesia.
Program MBG semula lebih familiar dengan sebutan program makan siang gratis bagi anak yang bersekolah. Program ini merupakan salah satu janji kampanye Presiden Prabowo Subianto dengan maksud untuk membangun sumber daya unggul, menurunkan angka stunting, menurunkan angka kemiskinan, dan menggerakkan ekonomi masyarakat. termasuk mewujudkan visi Indonesia emas.
Program MBG mulai berjalan 6 Januari 2025 namun dalam perjalanannya menemui banyak kendala terutama tata kelolanya. Ini yang menjadi alasan sejumlah pihak mendesak pemerintah untuk terbuka dan mau melakukan evaluasi menyeluruh. Tidak cukup sekedar meresponnya dengan minta maaf. (ASA)



