Jakarta — Rektor Universitas Harkat Negeri (UHN) , Sudirman Said memahami sikap sekaligus rasa penasaran publik selama ini mempertanyakan kekuatan apa dibalik jabatan Kapolri yang sudah begitu sangat lama dijabat oleh Jenderal Sigit Sulistiyo namun hingga sekarang belum tergantikan meski kinerjanya tidak baik – baik amat dari Kapolri sebelumnya.
Sulistyo sendiri mulai menjabat Kapolri sejak tanggal 27 Januari 2021, saat itu masih era kepempinan Presiden Joko Widodo. Sulistyo adalah Kapolri ke 25 dan sekaligus Kapolri pertama yang berasal dari reserse criminal murni. Tapi juga menjadi Kapolri terlama menjabat sepanjang perjalanan kepolisian di tanah air.
‘’Se sentralismenya Orde Baru saat itu, setiap lima tahun Kapolri berganti tuh. Begitu berganti pergantian kabinet, berganti juga. Ini, seperti akhirnya kan menimbulkan persepsi, apakah Kapolri itu, untouchable” (tidak bisa disentuh—red) sehingga seorang Presiden barupun tidak berani atau tidak sanggup Kapolri. Itukan muncul pertanyaan di Masyarakat,’’ ujar Sudirman Said saat tampil podcast di kanal youtube Abraham Samad Speak UP.
Menurut Sudirman, sudah cukup banyak masalah yang selama ini terjadi di masa kepemimpinan Kapolri Sulistyo dan seharusnya menjadi bahan evaluasi bagi kepempinan baru untuk bertindak.
‘’Leadership dari Kepolisian itu tidak bisa menyembunyikan diri dari masalah-masalah yang selama ini muncul,’’ tambahnya lagi mengurai beberapa daftar kesalahan dalam tubuh di era kepemimpinan Sulistyo dan seolah sudah menjadi kultur. Bahkan aktornya sangat dekat dengan Kapolri.
Pertama kasus tragedi pembunuhan di tol KM 50 yang beritanya sudah mulai hilang tanpa ada kabar lagi. Kedua, kasus tragedi. Tidak ada kabar sama sekali. Kedua, kasus Ferdi Sambo. Ketiga kasus perdagangan narkoba yang melibatkan Kapolda Tedi Minahasa saat itu. Keempat, kasus kekerasan terhadap masyarakat di Kebumen . Kelima tragedi kasus Kanjuruhan. Kanjuran itu gelap saja.
‘’Apakah Kepolisian sudah menjadi monster yang tidak bisa dikoreksi. Kan pertanyaan begitu kan?, ’’ kritik Sudirman Said.
Menurut Sudirman, sekarang ini adalah momen yang tepat, kesempatan bagi Presiden Prabowo sebagai presiden baru untuk menata ulang. Dan itulah gunanya demokrasi untuk menata ulang memperbaiki negeri. Selengkapnya bisa nonton lebih lengkap dalam chanel berikut.



