Trump Terjepit: Ambisi “Zaman Batu”

whatsapp image 2026 04 02 at 18.02.03 (4)

WASHINGTON D.C. – Presiden Donald Trump kini berada di persimpangan jalan paling berbahaya dalam periode kepemimpinannya. Di tengah instruksi serangan militer yang mengancam akan mengembalikan Iran ke “Zaman Batu”, Trump justru menghadapi gelombang perlawanan masif dari rakyatnya sendiri yang mengancam akan melumpuhkan stabilitas Amerika Serikat.

Demikian ditegaskan pengamat hubungan internasional termuka, Dr. Dinna Prapto Rahardjo, saat tampil podcast di kanal YouTube Abraham Samad Speak UP baru baru ini. Dinna memberikan peringatan keras mengenai dampak kebijakan luar negeri AS yang semakin agresif. Menurutnya, eskalasi yang terjadi saat ini bukan sekadar pamer kekuatan militer, melainkan pertaruhan eksistensial bagi pemerintahan Trump.

Retorika Zaman Batu dan Risiko Mismanajemen

Kebijakan Trump yang menargetkan infrastruktur vital Iran—mulai dari situs nuklir hingga kilang minyak—telah memicu reaksi berantai di kawasan Timur Tengah. “Ada pergeseran drastis dari tekanan ekonomi menjadi penghancuran fisik total,” ujar Dr. Dinna dalam keterangannya.

Namun, strategi “Zaman Batu” ini dianggap sebagai pedang bermata dua. Alih-alih membuat Iran bertekuk lutut, serangan tersebut justru memicu soliditas aktor non-negara seperti Hizbullah dan Houthi, yang kini mulai menekan aset-aset strategis AS dan Israel secara simultan di berbagai front.

Jutaan Rakyat Turun ke Jalan

Ironisnya, musuh terbesar Trump saat ini mungkin bukan berasal dari Teheran, melainkan dari dalam Washington dan New York. Gelombang demonstrasi yang melibatkan jutaan warga Amerika mencerminkan kejenuhan publik terhadap biaya perang yang fantastis di saat ekonomi domestik sedang goyah.

“Trump sedang dikepung. Di satu sisi ia harus menunjukkan ketegasan militer, namun di sisi lain, jutaan warga Amerika menolak menjadi donatur bagi perang yang tidak berujung,” lanjut analisis tersebut. Protes ini bukan sekadar aksi damai, melainkan simbol perpecahan sosial yang bisa berujung pada krisis legitimasi kepemimpinan.

Indonesia dalam Pusaran Krisis

Bagi Indonesia, eskalasi ini bukan sekadar berita luar negeri. Dr. Dinna menyoroti bahwa kenaikan harga energi global dan ketidakstabilan pasokan akan memberikan tekanan berat pada APBN dan daya beli masyarakat di tanah air. Terlebih lagi, posisi diplomatik Indonesia semakin terjepit setelah jatuhnya korban dari personel penjaga perdamaian (UNIFIL) akibat serangan di kawasan konflik.

Analisis Tajam: Diplomasi yang Mati

Upaya perdamaian yang dipelopori oleh negara-negara Eropa dan mediator seperti Qatar kini berpacu dengan waktu. Dengan ditutupnya pintu dialog oleh Washington, dunia kini menanti apakah Trump akan terus maju dengan ambisinya atau terpaksa mundur akibat tekanan jutaan rakyatnya sendiri.

Dunia saat ini sedang menahan napas. Apakah ini awal dari tatanan dunia baru, atau justru awal dari keruntuhan hegemon yang terlalu memaksakan kehendak di atas penderitaan warganya sendiri?

1 komentar untuk “Trump Terjepit: Ambisi “Zaman Batu””

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top