ISLAMABAD / JAKARTA – Mata dunia tertuju pada Islamabad, Pakistan, yang dijadwalkan menjadi tuan rumah perundingan tingkat tinggi antara Amerika Serikat dan Iran pada Jumat, 10 April 2026. Pertemuan ini dimaksudkan untuk meratifikasi kesepakatan akhir berdasarkan proposal 10 poin yang diajukan Teheran, guna mengakhiri konflik yang telah melumpuhkan stabilitas kawasan selama berbulan-bulan.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, dan utusan khusus AS dikabarkan akan duduk semeja untuk membahas poin-poin krusial, mulai dari pembukaan permanen Selat Hormuz hingga penghentian sanksi ekonomi. Namun, di balik persiapan karpet merah diplomatik tersebut, suasana kebatinan publik justru dipenuhi keraguan mendalam.
Gencatan Senjata yang ‘Bocor’ dan Berdarah
Keraguan publik bukan tanpa alasan. Sejak pengumuman gencatan senjata dua minggu lalu, fakta di lapangan justru menunjukkan pola kekerasan yang tak kunjung padam.
- Tragedi Lebanon: Serangan masif Israel ke Lebanon pada Rabu (8/4) yang menewaskan lebih dari 180 orang menjadi bukti nyata rapuhnya kesepakatan ini. Tel Aviv berdalih bahwa Lebanon “tidak termasuk” dalam draf gencatan senjata, sebuah klaim yang diamini oleh Washington namun dianggap oleh pihak lain sebagai lubang hitam diplomasi.
- Gugurnya Prajurit TNI: Investigasi PBB telah mengonfirmasi bahwa peluru tank Merkava Israel adalah penyebab gugurnya personel perdamaian TNI di Lebanon. Hal ini memperkuat persepsi bahwa kesepakatan damai hanyalah tameng untuk konsolidasi militer.
Ridlwan Habib: Publik Waspadai ‘Jejak Kelicikan’ Historis
Pengamat intelijen Ridlwan Habib menyoroti adanya krisis kepercayaan yang akut di kalangan publik internasional dan warga Amerika sendiri. Ia menilai sejarah panjang diplomasi AS-Israel sering kali menggunakan meja perundingan sebagai alat tipu daya.
“Ada pola sejarah yang berulang di mana AS dan Israel menawarkan damai di tangan kanan, sementara tangan kiri mereka tetap memegang pelatuk. Publik ingat betul bagaimana kesepakatan nuklir masa lalu dikhianati dan bagaimana janji deeskalasi justru sering diikuti oleh invasi yang lebih besar. Bagi warga dunia, pertemuan Jumat besok hanyalah ‘perdamaian semu’ jika pembantaian di Lebanon tidak segera dihentikan,” tegas Ridlwan.
Demokrasi yang Terdistorsi Narasi “Buzzer”
Kekecewaan juga muncul dari perilaku publik di Amerika Serikat. Ridlwan menyayangkan bagaimana sebagian masyarakat AS terjebak dalam narasi sepihak dari “buzzer politik” yang hanya menyajikan berita kemenangan atau pembenaran serangan. Hal ini membuat warga di negara demokrasi tersebut seolah menutup mata terhadap pengeboman sekolah dan kematian ratusan anak di Timur Tengah demi kepuasan ego politik domestik.
Pertaruhan di Islamabad
Jika perundingan Jumat besok gagal menghasilkan pakta yang mengikat dan inklusif bagi seluruh kawasan—termasuk penghentian serangan di Lebanon—maka Islamabad hanya akan dicatat sejarah sebagai tempat di mana diplomasi terakhir kali dikhianati sebelum perang total pecah. Dunia kini menunggu, apakah kali ini akan ada kejujuran, atau kembali terulang jejak lama penuh tipu daya.



