Prabowo dan Godaan Mikrofon yang Terkutuk

whatsapp image 2026 05 08 at 15.53.18 (6)

Lukas Luwarso

Presiden Prabowo dan mikrofon kini semakin menjadi kombinasi yang berbahaya, mengundang tawa, atau, setidaknya, memilukan. Sepilu rasa hatinya ketika menyampaikan pidato dalam Rapat Paripurna DPR, 20 Mei 2026, kemarin. Berikut curhat ungkapan suasana pilu hatinya (kutipan verbatim):

“Kadang-kadang saya malem-malem sebelum tidur, pilu hati saya. Ini anggota PDIP, kritiknya kadang-kadang keras banget. Tetapi saya sadar sebetulnya mungkin ada dasarnya. Ada pepatah yang mengatakan, kalau orang mengingatkan kita, walaupun kita tidak suka dikasih peringatan, tetapi sebenarnya dia menyelamatkan kita. Jadi, saya terima kasih, saya hormati pengorbanan kalian.”

​Ucapan spontan (off-the-cuff) ini keluar ketika Prabowo bermaksud memberikan apresiasi kepada PDIP sebagai satu-satunya parpol yang memilih berada di luar pemerintahan. ​Alih-alih fokus membacakan secara sistematik teks pidato “Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok Kebijakan Fiskal RAPBN 2027″ (KEM-PPKF)”, ia menyelipkan retorika omon-omon personal. Curahan hati situasi psikologisnya, harus menghadapi oposisi.

Lazimnya, tradisi pidato KEM-PPKF memaparkan rancangan anggaran pemerintah di DPR disampaikan oleh Menteri Keuangan. Tapi kali ini presiden Prabowo mengambil alih. Mungkin karena ia suka berpidato, atau dalam istilah yang ia populerkan: omon-omon.

Godaan mikrofon yang terkutuk. Dalam khazanah agama orang beriman sering diingatkan agar hati-hati menjalani hidup, selalu berbuat baik, dan menjauhi “godaan syaiton yang terkutuk”. Bagi politikus, level presiden, godaan syaiton itu bertransformasi sebagai mikrofon. Politikus cenderung selalu ingin menjadi pusat perhatian, didengarkan, membanggakan diri, dan berceloteh agar dipahami. Mikrofon, bagi politikus yang gemar bicara, bukan lagi sekadar alat pengeras suara, melainkan menjadi kepanjangan ego. Mikrofon adalah metafor “godaan syaiton yang terkutuk”.

Presiden Prabowo perlu dijauhkan dari mikrofon demi kemaslahatan bangsa. Setidaknya sampai nilai dollar turun, IHSG naik, MBG dan KDMP dianulir, plesiran ke luar negeri dikurangi, serta kabinet dirampingkan. Mikrofon boleh didekatkan hanya ketika perlu menyampaikan pidato acara formal kenegaraan yang ditulis tim komunikasinya. Kurangi memberi sambutan acara-acara peresmian yang bukan level presidensial. Seperti meresmikan museum Marsinah, gedung Koperasi Merah Putih atau dapur SPPG-MBG, apalagi cuma panen jagung kepolisian.

Makin sering seorang pemimpin ngomong di depan mikrofon (tanpa teks), makin banyak memunculkan spekulasi dan pergunjingan. Selain kecanduan untuk ngomong apa saja, agar mendapat tepuk tangan dan sanjungan orang disekelilingnya. Mikrofon memberikan asupan atas kecanduan psikologis, kepuasan instan, untuk selalu mendapat perhatian. Omon-omon di depan mikrofon memberi efek nikmat sesaat, bisa mengalihkan problem bernegara dan mendistorsi realitas. Cuma entertainer stand-up comedy yang perlu banyak omon untuk memancing tawa dan tepuk tangan.

Diet mikrofon untuk mengurangi jumawa. Keranjingan berpidato dan mendapat tepuk tangan, kemungkinan, juga indikasi adanya problem kejiwaan Narcissistic Personality Disorder (NPD). Dalam kajian psikologi, salah satu ciri NPD adalah sikap grandiosity, merasa paling penting, menjadi solusi dan tumpuan harapan untuk setiap persoalan. Secara perilaku (behavioral) politik, gejala haus perhatian, klaim kemegahan, gagal memahami realitas. Menganggap MBG beneran bergizi, KDMP beneran koperasi, orang desa tidak peduli dollar naik, dan kapolri perlu bintang mahaputera karena berprestasi adalah contoh narsisco-delusinal. Ketidaksinkronan memahami realitas faktual.

Mengelola negara berpenduduk 280 juta jiwa memerlukan kinerja tanpa banyak bicara. Kebijakan berbasis data, fakta, dan empati, bukan dengan orasi. Presiden Prabowo perlu langkah taktis untuk melakukan “diet mikrofon”. Menjauhkan atau setidaknya membatasi akses spontan pada mikrofon. Bukan untuk “tapa bisu”, melainkan untuk menyelamatkan reputasi diri sekaligus untuk menjaga ketenangan batin rakyat yang tertekan ekonomi. Tahu kapan tombol “mute” dipencet. Agar bisik-bisik urusan personal dengan Donald Trump tidak terdengar. Atau tidak muncul teriakan “hidup Jokowi”, seperti diingatkan Dasco (yang juga lupa memencet tombol mute) diakhir Rapat Paripurna DPR kemarin.

“Vanity is my favorite sin”, kalimat ini diucapkan syaiton, dimainkan oleh Al Pacino, dalam film The Devil’s Advocate (1997). Dalam monolog ikonik ini syaiton mengingatkan: kejumawaan (vanity) dan egosentrik adalah godaan syaiton yang mudah menjerumuskan manusia dalam lembah dosa. Demi kebaikan bersama, duhai Presiden Prabowo, sebaiknya hindari “godaan mikrofon yang terkutuk


Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top