AKARTA — Di tengah klaim pemerintah bahwa fundamental ekonomi domestik masih kokoh, bayang-bayang kejatuhan nilai tukar Rupiah ke level psikologis baru yang mengerikan kini mulai diperbincangkan secara terbuka. Angka Rp25.000 per Dolar AS, yang dulunya dianggap sebagai skenario distopia yang mustahil, kini mulai dihitung sebagai risiko riil jika salah langkah dalam mengelola bauran kebijakan moneter.
Dalam wawancara di kanal YouTube Abraham Samad SPEAK UP, ekonom senior Ferry Latuhihin membedah secara telanjang mengapa Rupiah berada dalam tren melemah yang kronis dan apa konsekuensi fatalnya bagi struktur ekonomi nasional jika menyentuh angka ekstrem tersebut.
Menurut analisis makroekonomi, ancaman “Rupiah OTW 25 Ribu” ini digerakkan oleh dua pusaran badai: tekanan eksternal global yang tak kenal ampun, dan rapuhnya fondasi internal kita sendiri.
Badai dari Luar: Suku Bunga Tinggi dan Pelarian Modal
Faktor pertama yang menjepit posisi garuda adalah kebijakan bank sentral Amerika Serikat (The Fed) yang menolak menurunkan suku bunga acuan secara agresif. Kebijakan ini memicu fenomena capital outflow—pelarian modal asing keluar dari pasar keuangan Indonesia kembali ke Amerika Serikat karena dianggap lebih aman (safe haven) dan memberikan imbal hasil tinggi.
Ketika dolar pulang kampung, pasokan dolar di dalam negeri menyusut drastis. Hukum pasar berlaku: barang yang langka harganya akan meroket. Dalam konteks ini, Dolar AS menjadi barang mewah yang kian tak terjangkau oleh Rupiah.
Kerentanan Domestik: Cadangan Devisis Mulai Temui Batas
Ferry Latuhihin menyoroti bahwa intervensi yang dilakukan Bank Indonesia (BI) untuk menjaga stabilitas Rupiah di pasar spot selama ini memakan ongkos yang teramat mahal. Cadangan devisa terus tergerus untuk melakukan “operasi pasar” demi membendung depresiasi.
Namun, strategi defensif ini dinilai tidak akan bertahan lama jika motor penggerak devisa yang asli—yaitu surplus neraca dagang—terus menyusut. Ketergantungan Indonesia pada impor pangan (seperti gandum, kedelai, beras) dan komoditas energi (minyak mentah) membuat kebutuhan akan Dolar AS selalu tinggi di dalam negeri.
Ketika Rupiah melemah, biaya mengimpor barang-barang tersebut otomatis membengkak. Inilah yang disebut sebagai imported inflation (inflasi yang diimpor), di mana pelemahan mata uang langsung menembak jantung daya beli rakyat lewat kenaikan harga barang di pasar tradisional hingga supermarket.
Anatomi Kerusakan jika Rupiah Menyentuh Rp25.000
Jika jangkar psikologis Rupiah jebol ke angka Rp25.000 per Dolar AS, Ferry memperingatkan akan terjadinya efek domino yang bisa melumpuhkan industri nasional:
- Kebangkrutan Korporasi: Perusahaan swasta dan BUMN yang memiliki utang luar negeri dalam denominasi dolar akan menghadapi lonjakan beban utang yang berlipat ganda secara instan.
- Kelangkaan Barang Utama: Industri manufaktur kita yang saham bahan bakunya masih impor (seperti farmasi, elektronik, dan otomotif) akan dipaksa memangkas produksi atau menaikkan harga jual secara drastis—yang berujung pada sepinya pasar dan berakhir pada opsi PHK massal.
- Stagflasi Nyata: Ekonomi melambat ke titik nadir, lapangan kerja menyusut, namun harga-harga melambung tinggi tanpa kendali.
Peringatan dari panggung Abraham Samad SPEAK UP ini menjadi sinyal keras bagi para bankir sentral dan pembuat kebijakan di Lapangan Banteng. Menjaga Rupiah hari ini bukan lagi sekadar urusan gengsi angka di papan bursa saham, melainkan urusan hidup-mati sektor riil dan stabilitas sosial bangsa.




dollar naik kita malah makin nurun harga rupiah