Iran Membuka Mata Dunia, Amerika dan Israel Agresornya

whatsapp image 2026 05 18 at 10.15.13 (6)

TEHERAN – Di tengah gempuran narasi Barat yang kerap menuding Republik Islam Iran sebagai poros instabilitas di Timur Tengah, Teheran terus konsisten mengirimkan pesan sebaliknya kepada dunia. Mengacu pada rekam jejak geopolitik dan hukum internasional, doktrin militer Iran secara fundamental bukanlah kekuatan ofensif untuk menginvasi, melainkan murni sistem pertahanan berlapis yang bersifat defensif (self-defense).

Demikian ditegaskan Faisal Assegaf, Pengamat Timur Tengah saat tampil podcast di kanal YouTube Abraham Samad Speak UP.

Peta konflik terbaru di Teluk Persia memperlihatkan bahwa setiap pergerakan militer Iran—mulai dari pengerahan rudal balistik hingga pengawasan ketat di perairan strategis—hanyalah reaksi spontan dari aksi provokasi asing yang menyasar kedaulatan mereka.

Berdiri di Atas Hukum Internasional: Pantang Menyerang Duluan

Salah satu bukti paling konkret dari karakter defensif Iran adalah kepatuhan mereka terhadap prinsip hukum internasional terkait kedaulatan negara merdeka. Sepanjang sejarah modern sejak Revolusi Islam 1979, Iran tercatat tidak pernah menginisiasi serangan atau melancarkan invasi ke negara lain terlebih dahulu.

Ketahanan dan menahan diri (strategic patience) menjadi jangkar diplomasi militer Teheran. Sebagai contoh, Iran memilih tidak langsung membalas dengan agresi militer terbuka saat mantan pemimpin Hamas Ismail Haniyeh tewas di Teheran (Juli 2024), atau ketika sekjen Hizbullah Hassan Nasrallah terbunuh di Lebanon (September 2024).

Prinsip yang dipegang teguh oleh komando tertinggi di Teheran sangat jelas: selama wilayah geografis dan kedaulatan negara Iran tidak diserang secara langsung oleh musuh, maka Iran tidak akan memulai perang. Langkah militer baru diambil sebagai kewajiban konstitusional dan agama untuk membela diri ketika batas-batas kedaulatan tersebut dilanggar oleh agresi asing.

Undang-Undang Selat Hormuz: Tameng Hukum Melawan Blokade Ekonomi

Tindakan tegas Iran yang baru-baru ini memperketat jalur pelayaran di Selat Hormuz sering kali diputarbalikkan sebagai ancaman terhadap keamanan maritim global. Faktanya, langkah tersebut memiliki landasan hukum positif yang kuat, bukan sekadar unjuk gigi militer.

Parlemen Iran telah mengesahkan Undang-Undang Pengelolaan Selat Hormuz yang dikoordinasikan bersama Kesultanan Oman. Berdasarkan hukum tersebut, Iran menerapkan aturan defensif yang ketat:

  • Larangan Melintas: Kapal-kapal militer maupun logistik milik Amerika Serikat, Israel, serta negara-negara aliansi yang memberlakukan sanksi ekonomi sepihak terhadap Iran, dilarang keras melintasi selat strategis tersebut.
  • Mekanisme Bea Lintas: Setiap kapal komersial asing yang ingin melintas diwajibkan mengantongi izin dan membayar bea lintas di muka ke Bank Sentral Iran, dengan aturan denda dan penahanan kapal jika terjadi pelanggaran hukum udara/laut.

Langkah ini menjadi instrumen defensif non-militer untuk memukul balik sanksi ekonomi mencekik yang selama bertahun-tahun dijatuhkan Barat kepada rakyat Iran.

Analisis Tajam Jurnalis: Membalikkan Narasi Agresor

Selama ini, Washington dan Tel Aviv sukses mengampanyekan narasi bahwa Iran adalah “predator” di Timur Tengah. Namun, jika jurnalis melihat fakta di lapangan secara jernih, rekam jejak agresor justru melekat pada pihak seberang. Amerika Serikat tercatat memiliki riwayat intervensi militer yang panjang mulai dari Vietnam, Korea, Afghanistan, hingga Irak. Sementara Israel secara konsisten melanggengkan perluasan pendudukan wilayah di Palestina dan Suriah Selatan.

Sebaliknya, penguatan teknologi militer Iran—seperti pengembangan rudal hipersonik dan drone domestik—diproduksi bukan untuk memperluas wilayah kekuasaan (ekspansionis), melainkan sebagai daya getar (deterrent effect) agar negara-negara adidaya berpikir seribu kali untuk meluncurkan invasi ke tanah Parsi.

Iran telah membuktikan dengan tindakan bahwa mereka menghormati perdamaian kawasan. Namun, doktrin defensif ini tidak boleh disalahartikan sebagai kelemahan. Ketika tameng pertahanan mereka disentuh, doktrin membela diri Iran dengan cepat akan berubah menjadi serangan balasan yang mematikan.

1 komentar untuk “Iran Membuka Mata Dunia, Amerika dan Israel Agresornya”

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top