JAKARTA — Istilah “krisis sosial” sering kali terdengar abstrak di telinga para pengambil kebijakan yang terbiasa melihat angka di atas kertas. Namun, di tingkat akar rumput, krisis tersebut memiliki wujud yang sangat nyata: antrean panjang beras murah, tabungan yang lumat tak bersisa, hingga keputusasaan kepala keluarga yang terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).
Melalui kanal YouTube Abraham Samad SPEAK UP, ekonom senior Ferry Latuhihin mengingatkan dengan nada getir bahwa Indonesia sedang berjalan pelan namun pasti menuju titik didih tersebut. “Krisis Sosial di Depan Mata” bukanlah ramalan masa depan, melainkan realitas yang sedang merayap masuk ke ruang tamu dan dapur masyarakat, terutama kelompok kelas menengah.
Berikut adalah anatomi dampak riil yang sedang mencengkeram masyarakat saat ini:
1. Tragedi Kelas Menengah: Makan Tabungan Demi Bertahan Hidup
Kelompok masyarakat kelas menengah kini bertransformasi menjadi kelompok yang paling rentan. Berbeda dengan kelompok masyarakat miskin yang mendapatkan jaring pengaman berupa Bantuan Langsung Tunai (BLT) atau bansos sembako, kelas menengah justru dibiarkan bertarung sendiri di tengah badai ekonomi.
“Kelas menengah kita hari ini sedang mengalami fenomena eating core atau makan tabungan. Pendapatan mereka tetap atau bahkan hilang akibat PHK, sementara biaya hidup—mulai dari cicilan KPR yang naik akibat suku bunga tinggi hingga harga pangan—terus meroket,” urai Ferry.
Akibatnya, jutaan orang terpaksa turun kelas. Mereka yang tadinya memiliki daya beli untuk menggerakkan roda ekonomi domestik, kini harus memangkas semua pengeluaran sekunder dan tersier. Konsumsi domestik yang menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi Indonesia kini praktis sedang mengalami serangan jantung.
2. Ancaman Stagflasi: Skenario Terburuk di Meja Makan
Dampak riil yang paling menakutkan dari situasi ini adalah masuknya Indonesia ke dalam fase stagflasi—sebuah kondisi anomali ekonomi di mana pertumbuhan melambat dan lapangan kerja menyusut, namun harga barang-barang pokok justru melonjak tinggi.
Pelemahan nilai tukar Rupiah yang kronis membuat biaya impor bahan baku pangan (seperti gandum, kedelai, dan pupuk) melonjak. Produsen makanan dan barang kebutuhan pokok tidak punya pilihan selain menaikkan harga jual di pasar. Di saat yang sama, daya beli masyarakat yang sudah sekarat membuat barang-barang tersebut tidak terserap. Sektor riil pun macet total.
3. Dari Urusan Perut Menuju Kerawanan Sosial
Sejarah ekonomi dunia, termasuk potret kelam Indonesia pada tahun 1998, membuktikan bahwa stabilitas politik dan keamanan suatu negara sangat bergantung pada isi piring nasi rakyatnya. Ketika urusan dasar ini terganggu secara masif, maka hukum dan ketertiban sosial akan mendapat ujian terberat.
Ferry Latuhihin memperingatkan bahwa tekanan finansial yang berkepanjangan memicu tingginya tingkat stres di masyarakat. Dampak riil di lapangan mulai terlihat dari:
- Lonjakan Kriminalitas Mikro: Meningkatnya kasus pencurian kendaraan, penipuan online, hingga kejahatan berbasis desakan ekonomi di lingkungan perumahan.
- Jeratan Pinjaman Online (Pinjol) Ilegal: Kelas menengah bawah yang frustrasi mencari likuiditas cepat akhirnya terjebak lingkaran setan pinjol yang berujung pada keretakan rumah tangga hingga kasus bunuh diri.
- Sumbu Pendek Sosial: Masyarakat menjadi lebih mudah terprovokasi. Konflik horizontal atau gesekan kecil di jalanan kini lebih rentan meledak menjadi amuk massa karena akumulasi kekecewaan ekonomi yang terpendam.
Peringatan keras Ferry Latuhihin di panggung SPEAK UP menjadi cermin retak bagi pemerintah. Menjaga stabilitas negara tidak bisa lagi dilakukan hanya dengan memoles narasi makro yang indah, karena riak-riak krisis sosial yang sesungguhnya sudah mulai terasa di setiap sudut dapur rakyat




ekonomi indonesia tidak baik baik saja