JAKARTA — Kondisi perekonomian Indonesia saat ini dinilai mulai mendekati sinyal bahaya dan memperlihatkan sejumlah kemiripan dengan situasi menjelang tumbangnya era Orde Baru pada tahun 1998 silam.
Hal tersebut diungkapkan oleh aktivis pejuang demokrasi, Syamsuddin Alimsyah, dalam sebuah komparasi ekonomi yang ditayangkan melalui kanal YouTube ASANESIA TV, Kamis (21/5/2026). Ia menyebut bahwa situasi ekonomi nasional saat ini sudah mulai memicu kecemasan dan kewaspadaan di tengah masyarakat.
“Kalau kita lihat data berdasarkan basis data, terutama di satu pekan terakhir ini, masyarakat mulai was-was dan dilanda kecemasan. Kurs dolar bukan lagi sama di tahun ’98 yang berada di angka 16.000, bahkan sekarang ini sudah melampaui 17.000 lebih, sempat naik ke Rp17.680,” ujar Syamsuddin, dikutip dari kanal ASANESIA TV.
Ia memaparkan bahwa meski ada perbedaan pola akselerasi—di mana pada tahun 1998 lonjakan dari Rp2.500 ke Rp16.000 terjadi secara mendadak hingga memicu kepanikan instan—tren kenaikan kurs dolar pada tahun 2026 ini bergerak merangkak naik secara tajam dan terus-menerus sejak awal tahun 2025.
Kenaikan kurs ini, menurut Syamsuddin, langsung memukul kehidupan masyarakat di tingkat bawah melalui lonjakan harga barang pokok, seperti tempe yang bahan bakunya masih bergantung pada impor.
Selain masalah nilai tukar mata uang, Syamsuddin juga menyoroti perangkap utang negara yang dinilainya jauh lebih mengkhawatirkan pada tahun 2026 dibandingkan era krisis 1998.
“Di tahun ’98 utang pemerintah berada pada angka 60 sampai 70 miliar dolar AS atau kisaran 500 triliun rupiah. Di tahun 2026 ini, utang kita sebenarnya jauh lebih tinggi, terutama akibat pinjaman yang melonjak tinggi dalam 10 tahun terakhir,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia memperingatkan adanya fenomena gali lubang tutup lubang yang kini telah bergeser ke arah yang lebih ekstrem di sektor pengelolaan keuangan negara.
“Sekarang ini justru pinjam uang untuk membayar bunga utang, bukan lagi sekadar menutup lubang. Ini membuat kita dalam situasi ekonomi yang ngeri-ngeri sedap. Banyak pengamat menyatakan Indonesia sudah mendekati lampu merah secara pendekatan ekonomi,” tegas Syamsuddin.
Di akhir penjelasannya, aktivis pejuang demokrasi ini mendesak Presiden Prabowo Subianto untuk segera mengambil kebijakan luar biasa yang konkret di sektor riil guna menyelamatkan daya beli masyarakat, ketimbang sekadar membangun narasi politik di podium.
“Bola sekarang berada di tangan Presiden. Pilihan bagi Indonesia saat ini adalah mengambil tindakan ekstra untuk selamat, atau membiarkan kondisi ini berlarut-larut hingga memicu kejenuhan publik yang bisa berujung pada ledakan sosial,” pungkasnya.



